Skip to main content

Tumbler Hilang, Hutan Hilang, dan Skala Kepedulian yang Aneh

Satu tumbler hilang di kereta. Pemiliknya, Anita, mengunggah kronologi. Dalam hitungan jam, netizen menjadikannya musuh publik. Katanya lebay. Katanya menyusahkan petugas KAI. Katanya hampir membuat orang kehilangan pekerjaan. Negara kecil bernama Media Sosial langsung menggelar sidang darurat: cepat, riuh, dan tanpa minat pada proporsi.

Di sisi lain, hutan-hutan di Sumatera hilang bertahun-tahun. Banjir bandang datang, membawa kayu-kayu yang jelas tidak tumbuh semalam. Rumah hanyut, nyawa hilang, dan puluhan ribu orang terdampak. Respons publik? Sopan. Tenang. Rapi. Seolah bencana ekologis hanyalah repetisi yang tidak perlu dibahas panjang.

Kita tidak kekurangan empati; kita hanya lebih tertarik pada kasus yang menyediakan tokoh untuk diserang. Anita punya nama dan wajah. Deforestasi punya izin, korporasi, dan jaringan kepentingan, terlalu panjang untuk di-quote tweet.

Pada akhirnya, tumbler dan hutan sama-sama hilang. Yang membedakan hanyalah apa yang sanggup dicerna imajinasi publik. Tumbler memicu kemarahan massal karena sederhana. Hutan memicu sunyi karena terlalu besar, terlalu melelahkan, dan terlalu dekat dengan akar masalah yang tidak ingin disentuh siapa pun.

Negeri ini tidak perlu musuh besar untuk salah fokus. Cukup satu unggahan viral, dan semua orang merasa sudah melakukan tugas moralnya. Sementara banjir bandang terus datang, menyapu apa pun yang tersisa, termasuk rasa malu kita sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...