Satu tumbler hilang di kereta. Pemiliknya, Anita, mengunggah kronologi. Dalam hitungan jam, netizen menjadikannya musuh publik. Katanya lebay. Katanya menyusahkan petugas KAI. Katanya hampir membuat orang kehilangan pekerjaan. Negara kecil bernama Media Sosial langsung menggelar sidang darurat: cepat, riuh, dan tanpa minat pada proporsi.
Di sisi lain, hutan-hutan di Sumatera hilang bertahun-tahun. Banjir bandang datang, membawa kayu-kayu yang jelas tidak tumbuh semalam. Rumah hanyut, nyawa hilang, dan puluhan ribu orang terdampak. Respons publik? Sopan. Tenang. Rapi. Seolah bencana ekologis hanyalah repetisi yang tidak perlu dibahas panjang.
Kita tidak kekurangan empati; kita hanya lebih tertarik pada kasus yang menyediakan tokoh untuk diserang. Anita punya nama dan wajah. Deforestasi punya izin, korporasi, dan jaringan kepentingan, terlalu panjang untuk di-quote tweet.
Pada akhirnya, tumbler dan hutan sama-sama hilang. Yang membedakan hanyalah apa yang sanggup dicerna imajinasi publik. Tumbler memicu kemarahan massal karena sederhana. Hutan memicu sunyi karena terlalu besar, terlalu melelahkan, dan terlalu dekat dengan akar masalah yang tidak ingin disentuh siapa pun.
Negeri ini tidak perlu musuh besar untuk salah fokus. Cukup satu unggahan viral, dan semua orang merasa sudah melakukan tugas moralnya. Sementara banjir bandang terus datang, menyapu apa pun yang tersisa, termasuk rasa malu kita sendiri.
Comments
Post a Comment