Seorang pendaki perempuan bernama Jennifer “Jenn” Jensen lagi trekking santai di Hooker Valley, Selandia Baru. Jalurnya sebenarnya bukan jalur teknis yang bikin orang harus pasang harness atau buka tali carabiner. Tapi tetap saja gunung ya gunung. Cuaca bisa berubah tanpa permisi. Langit yang tadi cerah bisa mendadak jadi mendung, lalu hujan turun tanpa aba-aba.
Jenn pakai rain jacket The North Face. Di kepala banyak pendaki, merek itu bukan kaleng-kaleng. Sudah diasosiasikan dengan gear yang “aman”, tahan banting, dan layak dibawa naik gunung. Tapi realita lapangan sering kali tidak peduli reputasi. Hujan turun, angin dingin menusuk, dan jaket itu… tembus. Jenn basah kuyup. Inner layer-nya kena. Badannya dingin. Kalau pendaki lain yang ngalamin, biasanya cuma bisa ngomel sambil cari shelter, bikin kopi hangat, lalu move on.
Jenn memilih ketawa. Dia bikin video TikTok. Bercanda. Intinya kira-kira begini: “Katanya rain jacket, tapi kok rasanya kayak windbreaker doang?” Lalu dia nyeletuk, setengah bercanda setengah pasrah, minta The North Face kirim jaket baru ke atas gunung.
Video itu viral. Netizen ketawa. Banyak pendaki paham rasanya. Gear mahal tapi kalah sama cuaca.
Di titik itu, sebenarnya cerita bisa berhenti. Brand besar biasanya punya jurus klasik: klarifikasi, spesifikasi teknis, dan catatan kaki. Penjelasan panjang soal waterproof rating, seam sealing, breathability, dan kondisi ekstrem yang “tidak sesuai standar pengujian”.
Tapi The North Face enggak ke arah sana.
Mereka justru melakukan sesuatu yang, kalau dipikir-pikir, sangat tidak efisien secara logistik tapi luar biasa secara makna. Mereka ambil satu jaket baru dari toko. Naik helikopter. Terbang ke area pegunungan. Begitu melihat Jenn, helikopter turun sebentar, kru melempar jaket baru ke arahnya, lalu langsung cabut.
Enggak ada pidato. Enggak ada infografik. Enggak ada pembelaan diri.
Cuma satu jaket. Di ketinggian. Di cuaca dingin. Di medan yang enggak ramah.
Dan publik langsung paham pesan yang disampaikan: kami datang.
Sekarang, pindah ke Sumatera. Ke Aceh. Ke kondisi yang jelas-jelas bukan sekadar “basah kuyup”.
Banjir datang. Longsor menyusul. Rumah rusak. Jalur akses putus. Wilayah-wilayah tertentu jadi kayak basecamp yang terisolasi: logistik minim, komunikasi terbatas, dan warga hidup dalam mode survival. Ini bukan lagi soal naik gunung buat hobi. Ini soal bertahan.
Namun, yang muncul ke permukaan justru kalimat-kalimat yang bikin orang mengernyitkan dahi.
“97 persen listrik sudah menyala.”
Kalimat itu terdengar rapi. Meyakinkan. Sayangnya, di lapangan, realitasnya beda. Masih banyak wilayah gelap. Bukan gelap metaforis. Gelap betulan. Dan bagi warga, listrik bukan soal kenyamanan, itu soal hidup sehari-hari.
Ada juga ide-ide absurd yang entah lahir dari ruang rapat mana: kementerian gletser, topan, dan air. Kalau ini dilempar ke tongkrongan pendaki, mungkin sudah jadi bahan bercandaan sambil ngopi di tenda dome. Namun, ketika dilontarkan di tengah krisis nyata, rasanya seperti orang ngomongin summit fever padahal belum keluar dari parkiran.
Belum lagi drama donasi. Relawan dibandingkan dengan pemerintah. Seolah empati itu lomba. Seolah bantuan harus lewat jalur resmi dulu, meski perut orang sudah kosong.
Di titik ini, negara terasa seperti pendaki yang sibuk ngatur strategi di peta, tapi lupa bahwa timnya di depan sudah kelelahan dan butuh air sekarang, bukan nanti.
Yang menarik, justru di tengah kekacauan itu, simpati publik jatuh ke Gubernur Aceh. Bukan karena kata-katanya puitis. Bukan karena unggahan medianya estetik. Namun, karena dia turun langsung.
Dia masuk ke lokasi. Menyusuri daerah terdampak. Bertemu warga. Melihat sendiri dapur yang kosong dan jalan yang amblas. Bukan dari drone, bukan dari laporan staf, tapi dari jarak pandang mata.
Dan orang bisa membedakan mana yang datang karena jadwal, mana yang datang karena panggilan nurani.
Dia enggak datang dengan gaya heroik berlebihan. Enggak pakai atribut yang seolah sedang ekspedisi militer. Ini bukan pendakian ekstrem yang butuh rompi antipeluru. Ini kerja kemanusiaan. Yang dibutuhkan bukan perlindungan simbolik, tapi keberanian untuk basah, kotor, dan capek bareng rakyatnya.
Bagi warga, kehadiran seperti itu rasanya mirip ketemu porter yang tetap naik walau hujan, atau guide yang nggak ninggalin tim meski jalur makin berat. Bukan karena semuanya langsung beres, tapi karena ada rasa: kita bareng-bareng.
Dari sini, pelajarannya jadi kelihatan jelas. Dalam krisis, manusia enggak mencari penjelasan. Mereka mencari kehadiran.
The North Face paham itu. Mereka enggak menyelesaikan semua masalah dunia. Mereka cuma mengirim satu jaket. Tapi jaket itu datang di waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dengan cara yang tepat.
Gubernur Aceh melakukan hal serupa. Bukan dengan gimmick. Bukan dengan jargon. Namun, dengan langkah kaki.
Dan di situlah negara sering gagal membaca medan. Terlalu sibuk menjelaskan “cuaca aman”, padahal warga sudah menggigil. Terlalu fokus bilang “situasi terkendali”, padahal di lapangan semua orang tahu ini masih jauh dari aman.
Dalam dunia pendakian, ada satu prinsip sederhana: kalau tim sudah kena hipotermia, jangan debat teori. Bertindak dulu. Hangatkan. Selamatkan. Evaluasi belakangan.
Sayangnya, prinsip itu sering hilang ketika krisis berubah jadi urusan negara.
Tulisan ini bukan sedang mengagungkan brand, apalagi menyederhanakan kompleksitas bencana. Ini cuma pengingat kecil, bahwa kadang solusi enggak perlu ribet.
Rakyat enggak menuntut segalanya selesai hari ini. Mereka hanya ingin tahu bahwa ada yang datang. Ada yang bergerak. Ada yang enggak sekadar menyuruh dari atas.
Kepercayaan publik itu seperti stamina di gunung. Dibangun pelan-pelan, tapi bisa habis kalau salah langkah. Dan dalam kondisi darurat, satu tindakan nyata sering kali lebih berarti daripada seribu penjelasan yang datang terlambat.
Kadang, yang dibutuhkan bukan pidato dari puncak, tapi seseorang yang mau turun ke jalur berlumpur, ikut memanggul beban, dan bilang: tenang, kita lanjut bareng.
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment