Skip to main content

Pembungkaman Orang Muda Terbesar Sejak Reformasi

 

Somewhere between Agustus–September 2025, banyak orang muda di Indonesia mulai ngerasa kalau ikut demo tuh ternyata bukan cuma soal turun ke jalan, teriak bentar, terus pulang. Because apparently, the aftertaste bisa panjang.

Salah satu orang yang ngerasain itu adalah Delpedro Marhaen Rismansyah.

Tanggal 1 September 2025, dia lagi di kantor Yayasan Lokataru. Literally lagi kerja. Bukan lagi di tengah aksi Agustus yang waktu itu rame di mana-mana. Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya datang. Dan dia ditangkap.

No surat tugas.
No surat perintah penangkapan.

Beberapa waktu kemudian, dia ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penghasutan, perekrutan dan memperalat anak, sampai menyebarkan informasi elektronik yang dianggap memicu kerusuhan.

Menurut kuasa hukumnya, status tersangka itu keluar bahkan sebelum pemeriksaan dilakukan. And at that point, even orang yang nggak punya background hukum pun mulai kayak, "…okay, wait".


Padahal Waktu Demo, Lokataru Lagi Dampingi

Selama gelombang demonstrasi Agustus 2025, Yayasan Lokataru bukan pihak yang lagi mobilisasi massa. Mereka justru lagi doing the clean-up work. Mantau lapangan buat ngedata peserta aksi yang ditangkap. Bikin posko aduan buat pelajar yang ikut demonstrasi. Ngadvokasi pelajar yang Kartu Jakarta Pintarnya dicabut gara-gara mereka turun ke jalan.

So basically, ketika banyak orang tua panik karena anaknya ditahan, ada tim yang bantu dampingin secara hukum.

A few weeks later, direktur lembaga itu jadi tersangka. You can imagine kenapa ini bikin banyak orang pause bentar.


Dan Dia Cuma Satu dari Ribuan

Delpedro bukan satu-satunya yang harus berurusan dengan proses hukum setelah demonstrasi Agustus 2025. Total ada 6.719 orang yang ditangkap karena dianggap berkaitan dengan demonstrasi dan kerusuhan di periode itu. Sebelumnya, pada 24 September 2024, Kabareskrim Polri juga menyampaikan bahwa 959 orang ditetapkan sebagai tersangka terkait aksi demonstrasi. 295 di antaranya adalah anak. Pelajar. Usia belasan.


KPF: “Operasi Pembungkaman Kaum Muda Terbesar Sejak Reformasi”

Komisi Pencari Fakta yang terdiri dari YLBHI, LBH Jakarta, dan KontraS menyebut rangkaian penangkapan Agustus–September 2025 sebagai: Operasi Pembungkaman Kaum Muda Terbesar Sejak Reformasi.

Dalam laporannya, mereka mendokumentasikan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional, penangkapan massal, dugaan penyiksaan, sampai pengakuan paksa. Data yang dihimpun juga menunjukkan ribuan anak muda turut ditahan. Sebagian tanpa tuduhan yang jelas. Sebagian tanpa pembuktian hukum yang konkret.


Delpedro Ditahan Berbulan-Bulan

Setelah ditangkap, Delpedro ditahan di Rutan Polda Metro Jaya selama beberapa bulan. Permohonan penangguhan penahanan sempat ditolak. Permohonan praperadilan Oktober 2025 juga nggak dikabulkan.

Baru pada 13 Februari 2026 hakim memutuskan dia sebagai tahanan kota. Beberapa bulan hidup lo basically on hold.


And This Is Where It Gets Uncomfortable

Karena ini bukan cuma soal satu orang. Ini soal what happens setelah demonstrasi selesai.

Tentang mereka yang ditangkap di lapangan. Tentang pelajar yang ikut terseret. Tentang orang-orang yang ditahan tanpa tuduhan yang jelas.

At some point, orang mulai mikir:

Masih aman nggak buat turun ke jalan?
Masih aman nggak buat dampingi yang ditangkap?
Masih aman nggak buat sekadar speak up?

Dan ketika pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul, biasanya ruang sipil nggak langsung hilang. Dia pelan-pelan aja… jadi lebih sepi.


Ada pertanyaan yang lebih besar:

What do we do with ribuan orang yang sudah ditangkap tanpa bukti kesalahan yang konkret?

Karena demokrasi bukan cuma soal boleh demo atau nggak. Namun, juga soal apa yang terjadi setelah kamu pulang dari demo itu.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...