Skip to main content

Prabowo Tidak Punya Sawit, Tapi Lingkaran Kekuasaan Jarang Kosong

Hashim Djojohadikusumo bicara dengan nada pasti: Pak Prabowo tidak punya satu hektare pun lahan sawit. Di manapun di Indonesia, tidak punya.
Kalimat itu terdengar bersih. Terlalu bersih, bahkan. Seolah masalah kepemilikan lahan dan konflik kepentingan bisa diselesaikan dengan satu baris kalimat administratif: tidak tercatat atas nama presiden.

Dan memang, jika kita berpegang pada dokumen formal, klaim itu benar. Prabowo Subianto saat ini tidak tercatat sebagai pemilik lahan sawit. Ia pernah terlibat dalam bisnis sawit melalui PT Tidar Kerinci Agung di Sumatra Barat, perusahaan warisan ayahnya, tapi perusahaan itu disebut sudah tidak lagi berada dalam kepemilikan keluarga. Secara hukum, narasinya selesai.

Namun, persoalan kekuasaan tidak pernah sesederhana akta dan sertifikat.

Karena dalam politik, yang menentukan arah kebijakan bukan hanya apa yang dimiliki, melainkan siapa yang berada di sekeliling. Kekuasaan tidak selalu bekerja lewat tangan yang memegang, tapi lewat tangan-tangan yang dekat. Dan di titik inilah cerita menjadi jauh lebih menarik dan jauh lebih problematik.

Hashim sendiri, adik kandung Prabowo, adalah pengusaha besar di sektor sumber daya alam. Lewat Arsari Group, ia terlibat dalam bisnis sawit dan sektor ekstraktif lain. Forbes mencatat namanya bukan sebagai figur pinggiran, tapi sebagai pemain serius. Ini bukan gosip, bukan fitnah, bukan bisik-bisik oposisi. Ini data terbuka.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah Prabowo punya sawit, melainkan: apakah seorang presiden bisa sepenuhnya steril dari kepentingan ekonomi orang-orang terdekatnya?

Di sinilah banyak orang keliru memahami konflik kepentingan. Konflik kepentingan bukan selalu soal transfer saham atau kepemilikan langsung. Ia bekerja lebih halus, lebih rapi, lebih sopan. Ia hadir dalam bentuk keberpihakan yang tidak pernah diucapkan, dalam kebijakan yang terasa “rasional” tapi selalu jatuh ke arah yang sama.

Seorang presiden mungkin tidak menandatangani kontrak bisnis saudaranya. Tapi ia menandatangani regulasi. Ia menentukan prioritas. Ia memutuskan mana yang dipermudah, mana yang diperlambat, mana yang disebut “strategis nasional”, dan mana yang dianggap “menghambat pembangunan”.

Dan dalam negara yang sumber dayanya diperas habis-habisan, keputusan seperti itu bukan hal kecil.

Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) melalui Melky Nahar berkali-kali mengingatkan bahwa persoalan lingkungan di Indonesia bukan sekadar soal individu, tapi soal ekosistem kekuasaan. Ekosistem di mana bisnis ekstraktif, tambang, sawit, energi, berkelindan dengan politik, keluarga, dan lingkaran elite. Dalam ekosistem seperti ini, tidak penting siapa yang namanya tertulis di sertifikat. Yang penting adalah siapa yang punya akses.

Ironisnya, ketika kritik semacam ini muncul, respons yang datang bukan klarifikasi kebijakan, melainkan tuduhan politik. Hashim menduga ada gerakan masif yang bertujuan menjelekkan pemerintahan Prabowo. Ia menyebut mafia minyak dan sawit, kelompok yang selama ini diuntungkan oleh praktik korupsi, sebagai dalang di balik kritik-kritik tersebut.

Narasi ini menarik, karena secara tidak langsung mengakui satu hal: industri sawit dan minyak memang sarat mafia dan kepentingan gelap. Namun, alih-alih menjelaskan bagaimana pemerintah akan memutus mata rantai itu, kritik justru dipantulkan balik sebagai fitnah terorganisir.

Di titik ini, kritik lingkungan diperlakukan seperti hoaks politik. Aktivisme disamakan dengan sabotase. Pertanyaan publik dianggap sebagai serangan. Negara menjadi defensif, bukan reflektif.

Padahal, jika pemerintahan ini benar-benar yakin tidak ada konflik kepentingan, seharusnya pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan kebijakan yang transparan dan tegas: perlindungan hutan, audit lingkungan, penegakan hukum terhadap korporasi nakal, termasuk jika mereka dekat dengan kekuasaan. Bukan dengan membangun narasi bahwa setiap kritik pasti dibiayai oleh “pihak tertentu”.

Di sinilah satirnya terasa pahit:
Presiden tidak punya sawit, tapi kebijakan tetap ramah pada sawit.
Presiden tidak punya tambang, tapi lubang tetap menganga.
Presiden tidak punya konflik kepentingan, tapi kepentingan selalu menemukan jalan.

Maka pertanyaan terakhir sebenarnya bukan soal benar atau tidaknya “gerakan masif” untuk menjelekkan pemerintahan Prabowo. Pertanyaannya lebih mendasar: mengapa pemerintahan yang merasa bersih begitu alergi terhadap pertanyaan?

Karena kekuasaan yang yakin pada dirinya tidak butuh membungkam kritik. Ia justru mengundangnya, lalu membuktikan lewat kebijakan. Sebaliknya, kekuasaan yang sibuk menuding lawan biasanya sedang berusaha menghindari cermin.

Dan di republik ini, sejarah sudah terlalu sering menunjukkan:
yang paling keras berteriak “fitnah” justru sering lupa menjawab substansi.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...