Sekolah sedang libur. Papan tulis kosong, seragam dilipat, dan anak-anak, setidaknya dalam imajinasi negara, sedang menikmati masa jeda. Tapi di satu titik, negara berkata: tidak. Ada satu hal yang tidak boleh ikut libur. Makan Bergizi Gratis tetap harus jalan.
Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut program MBG tetap didistribusikan enam hari dalam seminggu selama libur semester. Alasannya terdengar mulia dan nyaris tak terbantahkan: masa libur dianggap rawan. Pola makan keluarga tidak terpantau. Risiko kekurangan gizi bisa meningkat. Negara, kata mereka, hadir untuk menutup celah itu.
“Kami ingin memastikan bahwa masa liburan bukan periode berisiko bagi tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu, tapi tetap menjadi fase yang aman karena dukungan gizi tetap berjalan,” ujar Khairul Hidayati, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN.
Kalimat itu indah. Terlalu indah untuk kebijakan yang menghabiskan triliunan rupiah. Karena di balik narasi perlindungan gizi, ada pertanyaan yang tidak pernah dijawab secara tuntas: apakah libur sekolah benar-benar identik dengan krisis makan? Atau justru libur ini menjadi alasan paling nyaman untuk memastikan anggaran tetap mengalir tanpa jeda?
Di sinilah masalahnya bermula. Dalam praktik kebijakan publik, niat baik tidak pernah cukup. Yang diuji bukan niat, melainkan desain, dampak, dan siapa yang diuntungkan ketika kebijakan dijalankan tanpa rem.
Sejumlah pakar menilai pembagian MBG di masa libur justru berpotensi menimbulkan persoalan serius. Distorsi distribusi, pengawasan yang longgar, hingga kebocoran anggaran dalam skala besar. Ketika sekolah libur, siapa yang memastikan makanan itu benar-benar sampai pada sasaran? Siapa yang mengawasi rantai distribusi ketika ruang kelas kosong dan guru tidak hadir?
CELIOS menghitung, sekitar Rp7,9 triliun anggaran negara digunakan untuk melanjutkan program MBG selama libur sekolah. Angka ini bukan sekadar besar, ia mencurigakan. Karena dalam negara yang selalu mengeluh soal keterbatasan anggaran pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial, tiba-tiba kita sangat dermawan ketika bicara soal satu program.
Maka pertanyaannya bergeser, pelan tapi tajam: siapa yang sebenarnya sedang dijaga gizinya? Anak-anak, atau sistem?
Nailul Huda dari CELIOS menyebut, jika dikalkulasikan, potensi keuntungan dari skema ini bisa mencapai sekitar Rp1 triliun. Uang yang tidak jatuh dari langit. Uang publik. Uang yang seharusnya transparan dari hulu ke hilir.
“Publik berhak mengetahui siapa yang menikmati keuntungan tersebut,” katanya.
Kalimat itu seharusnya tidak kontroversial. Tapi di negeri ini, pertanyaan soal siapa yang diuntungkan sering dianggap lebih berbahaya daripada kebocoran anggaran itu sendiri.
Kecurigaan publik makin berlapis ketika temuan ICW dibuka ke ruang terang. Ada 28 yayasan MBG yang terafiliasi dengan partai politik. Ada 452 SPPG dikelola TNI, dan 672 SPPG dikelola Polri. Daftar afiliasinya panjang dan merata: Gerindra, PKS, PAN, PDIP, NasDem, PSI, hingga partai-partai yang nyaris tak pernah terdengar suaranya kecuali saat pemilu.
Ini bukan soal partai A atau B. Ini soal pola. Pola di mana program sosial raksasa berkelindan dengan struktur politik dan aparat. Pola lama yang selalu berulang: bantuan publik berubah menjadi ekosistem distribusi kekuasaan.
Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk tetap menjalankan MBG saat sekolah libur tidak lagi terlihat netral. Ia tampak seperti upaya memastikan mesin tidak pernah mati. Karena mesin yang sudah terlanjur besar akan selalu butuh bahan bakar. Dan bahan bakar itu bernama APBN.
Ironinya, para pakar justru menekankan pentingnya evaluasi sebelum program ini dilanjutkan ke 2026. Hingga Desember tahun ini saja, penyerapan anggaran baru mencapai 74,6 persen. Artinya, masih ada masalah di pelaksanaan. Masih ada lubang di sistem. Tapi alih-alih memperlambat dan membenahi, negara justru bersiap menambah gas.
Tahun depan, anggaran MBG direncanakan melonjak menjadi Rp335 triliun.
Angka itu begitu besar sampai kehilangan makna. Ia tidak lagi terasa sebagai uang, melainkan simbol. Simbol ambisi. Simbol keberanian fiskal. Atau mungkin simbol keyakinan bahwa selama narasi anak dan gizi dikibarkan, pertanyaan apa pun bisa diredam.
Dan di titik inilah satirnya terasa getir:
Sekolah boleh libur,
kelas boleh kosong,
tapi aliran uang negara tidak boleh berhenti.
Karena dalam republik ini, yang paling rajin bukanlah murid—
melainkan anggaran.
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment