Skip to main content

Teror Simbolik dan Ancaman Nyata bagi Ruang Sipil

 

Awalnya cuma kelihatan menjijikkan. Bangkai ayam. Telur busuk. Bau. Ribet. Hal-hal yang biasanya bikin orang langsung pengin bersih-bersih dan lupa.

Tapi ternyata bukan soal bau.

DJ Donny cuma bicara. Soal banjir. Soal Sumatera yang tiap tahun kebanjiran tapi selalu disebut “musibah”. Soal alam yang rusak tapi selalu dimaafkan atas nama pembangunan. Tidak ada ajakan makar. Tidak ada seruan turun ke jalan. Hanya suara yang agak berisik di tengah keheningan yang rapi.

Balasannya datang dalam bentuk bangkai ayam.

Sherly Annavita juga begitu. Kritik. Komentar. Opini. Lalu mobilnya dicoret. Rumahnya dilempari telur busuk. Disusul surat ancaman. Bukan di kolom komentar. Bukan di debat terbuka. Tapi langsung ke ruang pribadi.

Iqbal Damanik dari Greenpeace bahkan sampai harus pindah ke safehouse. Aktivis lingkungan, bukan buronan. Mengkritik kebijakan, bukan menyembunyikan kejahatan. Tapi harus bersembunyi.

Di situ rasanya ada yang janggal. Bukan karena terornya, karena itu sudah sering. Tapi karena betapa normalnya semua ini terasa.


Ketika Tidak Ada Debat, Hanya Isyarat

Bangkai ayam itu bukan argumen. Tapi ia bicara.

Ia bilang: kami tahu kamu siapa.
Ia bilang: kami tahu kamu tinggal di mana.
Ia bilang: berhentilah sebelum ini jadi lebih serius.

Tidak ada yang perlu diucapkan lebih jauh.

Ini bukan teror besar. Tidak ada ledakan. Tidak ada darah. Tapi justru karena kecil, ia efektif. Murah. Mudah. Dan susah dilacak.

Yang bikin merinding bukan bendanya, tapi niat di baliknya.


Kritik Itu Boleh, Asal Tidak Terasa

Kita sering dengar kalimat ini, disampaikan dengan wajah tenang: kritik itu perlu. Kritik itu sehat.

Masalahnya, kritik baru dianggap sehat selama tidak bikin suasana jadi canggung.

Begitu kritik menyentuh hal yang dianggap sensitif seperti lingkungan, proyek, kebijakan, narasi resmi, responnya langsung berubah. Tidak ada klarifikasi panjang. Tidak ada dialog. Yang ada cuma sinyal: cukup sampai di situ.

Dan sinyal paling efektif memang bukan larangan, tapi rasa tidak aman.


Negara Tidak Marah, Tapi Juga Tidak Hadir

Yang menarik dari semua kasus ini adalah satu hal: tidak ada reaksi yang benar-benar keras dari negara.

Tidak ada kemarahan. Tidak ada rasa genting. Tidak ada kesan bahwa ini pelanggaran serius.

Seolah-olah semua ini cuma gangguan kecil. Padahal bagi yang mengalaminya, ini bukan kecil. Ini menyentuh rumah, keluarga, dan rasa aman.

Diamnya negara bukan teriakan, tapi cukup untuk bikin pesan sampai.


Ruang Bicara yang Pelan-Pelan Menyusut

Tidak ada yang bilang, “jangan bicara”.

Tapi setelah melihat apa yang terjadi pada DJ Donny, Sherly, dan Iqbal, banyak orang akan bertanya dalam hati: perlu sejauh ini tidak?

Dan dari situlah ruang sipil mengecil.

Bukan karena ditutup. Tapi karena orang memilih minggir sendiri.


Yang Paling Berbahaya Bukan Bangkai Ayamnya

Yang paling berbahaya dari semua ini bukan terornya, tapi kebiasaan.

Ketika teror jadi sesuatu yang “ya sudah lah”.
Ketika ancaman personal dianggap risiko wajar.
Ketika kritik harus selalu dibayar dengan rasa takut.

Di titik itu, kita tidak sedang kehilangan kebebasan berekspresi secara dramatis. Kita kehilangannya pelan-pelan, tanpa suara.

Dan biasanya, ketika kita sadar, ruangnya sudah terlalu sempit untuk berdiri tegak.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...