Skip to main content

WFM?!! Gaz

Ketika Mall Diharapkan Menyelamatkan Ekonomi

Dulu, kerja itu urusan kantor. Meja, kursi, jam absen, dan AC yang selalu terasa terlalu dingin untuk sebagian orang dan terlalu panas untuk yang lain. Lalu pandemi datang, dan dunia kerja dipaksa beradaptasi. Lahir Work From Home, disusul Work From Anywhere. Kerja menjadi fleksibel, katanya. Lebih manusiawi, katanya.

Tak lama, fleksibilitas itu menjelma gaya hidup. Work From Bali. Work From Coffee Shop. Laptop dibuka, kopi dipesan, produktivitas dipamerkan. Kerja bukan lagi sekadar kewajiban, tapi juga konten.

Dan sekarang, negara memperkenalkan istilah baru: Work From Mall.

WFM?!! Gaz.

Kalimatnya terdengar ringan, nyaris seperti ajakan nongkrong: “Ke mall yuk, kerja sekalian.” Apalagi ini disebut-sebut sebagai bagian dari Work From Anywhere. Secara resmi, tujuannya mulia: mentransformasi mall menjadi ruang aktivitas masyarakat dan menggerakkan ekonomi.

Masalahnya, ekonomi tidak pernah bergerak karena istilah.

Di 2025 ini, daya beli masih lesu. CORE mencatat konsumsi rumah tangga belum benar-benar pulih. Ketidakpastian ekonomi, ancaman PHK, dan inflasi masih menjadi bayang-bayang. Di tengah situasi seperti ini, tiba-tiba kerja diminta pindah lokasi, bukan karena produktivitas, tapi karena mall perlu diselamatkan.

Di titik ini, publik mulai membaca lebih dalam. Bukan soal teknis, tapi soal makna.

Ada asumsi yang muncul, sunyi tapi keras: apakah WFM ini sebenarnya menyasar PNS?

Pemandangan aparatur negara di mall saat jam kerja bukan cerita baru. Kafe penuh di hari biasa, jam tanggung, dengan wajah-wajah yang terlihat sangat tidak dikejar deadline. WFM lalu hadir seperti stempel resmi: apa yang sebelumnya tampak janggal, kini menjadi sah. Bukan bolos, tapi bekerja dari ruang alternatif.

Alih-alih membenahi budaya kerja, definisi kerja justru dilonggarkan. Negara tidak menegur kebiasaan, negara menyesuaikan narasi. Lebih rapi. Lebih legitim. Lebih aman dari pertanyaan.

Asumsi lain ikut menyusul: apa bedanya ini dengan WFA?

Secara substansi, nyaris tidak ada. Work From Anywhere sejak awal sudah mencakup segalanya, rumah, kafe, co-working space, bahkan mall. Tapi istilah baru tetap dilahirkan. Seolah tanpa nama baru, kebijakan lama terlihat terlalu sepi.

Di sini WFM terasa seperti rebranding birokratis. Bukan solusi baru, tapi kemasan baru. Bukan jawaban atas krisis, tapi cara agar pemerintah terlihat tetap bekerja, tetap mengkaji, tetap bergerak.

Lalu muncul pertanyaan paling krusial, yang jawabannya justru paling kabur: WFM ini kebijakan jangka panjang, atau hanya musiman?

Apakah ini dirancang untuk mengubah cara kerja secara struktural? Atau hanya strategi akhir tahun, menghidupkan mall menjelang tutup buku, musim diskon, dan laporan ekonomi?

Kalau sifatnya sementara, maka sulit menyangkal bahwa WFM bukan kebijakan ketenagakerjaan, melainkan stimulus konsumsi yang dibungkus narasi produktivitas. Kerja dijadikan alasan, belanja dijadikan tujuan.

Padahal kelas pekerja yang bisa WFH atau WFA di Indonesia itu terbatas. Buruh pabrik tidak bisa WFM. Driver ojek tidak bisa WFM. Petani, nelayan, pekerja lapangan, bahkan tidak punya pilihan lokasi kerja. Jadi wacana ini sejak awal berbicara pada segmen yang kecil, relatif mapan, dan sudah punya privilese.

Kerja di mall justru terasa lebih boros. Lebih distraktif. Lebih jauh dari esensi kerja itu sendiri. Dan yang paling penting: tidak menambah uang di dompet.

Pakar ekonomi dari Celios atau LPEM UI sepakat pada satu hal: persoalan daya beli bukan soal kurangnya ruang belanja, tapi kurangnya penghasilan yang layak dan kepastian kerja. Mall sepi bukan karena orang malas datang, tapi karena orang menghitung. Harga beras, cicilan, dan kemungkinan di-PHK.

Dalam pembacaan paling jujurnya, Work From Mall lahir dari kecemasan pasar, bukan kegelisahan rakyat. Ia mencoba menyelamatkan ruang konsumsi dengan meminjam tubuh pekerja sebagai penggeraknya.

Mall dijadikan simbol harapan ekonomi.
Padahal ekonomi tidak pernah runtuh karena kurangnya gedung.
Ia runtuh karena distribusi yang timpang dan upah yang makin tak masuk akal.

Dan selama kebijakan masih lebih sibuk mengatur di mana orang bekerja, ketimbang bagaimana orang bisa hidup layak dari pekerjaannya, maka WFM akan terus terdengar seperti ini:

ramai di istilah,
sunyi di dampak.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...