Ada sesuatu yang ironis dalam menonton Guy Ritchie’s The Covenant (2023). Di satu sisi, film ini adalah kisah sederhana tentang utang budi dan keberanian seorang tentara yang menepati janji. Tapi di sisi lain, ia juga kisah kompleks tentang bagaimana kemanusiaan sering kali menjadi aksesori dalam perang yang katanya demi “membawa demokrasi.”
Film ini mengikuti perjalanan John Kinley (Jake Gyllenhaal), sersan pasukan khusus Amerika Serikat yang bertugas di Afghanistan. Setelah kehilangan penerjemahnya dalam ledakan, ia merekrut Ahmed (Dar Salim), seorang warga Afghan yang tak hanya pandai berbahasa Inggris, tapi juga punya naluri hidup yang luar biasa. Dalam perang, Ahmed bukan hanya penerjemah, tapi juga penuntun — menyelamatkan John berkali-kali dari maut. Namun setelah pertempuran yang menewaskan seluruh tim, hanya mereka berdua yang tersisa. John diselamatkan dan dipulangkan, sementara Ahmed — pria yang menyelamatkannya — ditinggalkan di tanah kelahirannya, diburu oleh kelompok yang menganggapnya pengkhianat.
Dan di sinilah film mulai berbicara halus tentang moralitas Amerika.
Guy Ritchie, yang biasanya dikenal lewat film aksi bergaya cepat dan penuh dialog cerdas (Snatch, Sherlock Holmes), kali ini justru bermain tenang. Ia membuat film perang yang nyaris seperti doa panjang tentang rasa bersalah. Kamera Ed Wild menangkap lanskap Afghanistan dengan sinematografi yang luar biasa — langit yang terlalu biru, debu yang terlalu nyata, cahaya yang jatuh di wajah para tentara seolah sedang menanyai nurani mereka. Seolah Ritchie ingin berkata, “lihatlah, bahkan di medan perang pun, ada keindahan yang tidak bisa menebus dosa.”
Namun keindahan itu menipu. Karena semakin indah gambarnya, semakin jelas kebohongan moral yang diusung: bahwa ini semua tentang balas budi dan persahabatan, bukan tentang kekuasaan dan intervensi. Bahwa yang datang ke tanah orang lain dengan senjata adalah pahlawan, bukan penjajah. Bahwa utang budi lebih penting dari introspeksi.
John Kinley merasa punya tanggung jawab moral kepada Ahmed. Tapi film ini tidak pernah menyinggung fakta bahwa seluruh situasi itu hanya mungkin karena negaranya — Amerika — menciptakan kekacauan yang membuat Ahmed harus menjadi penerjemah dalam perang yang bukan miliknya. Dalam logika perang, Ahmed adalah collateral hero: pahlawan yang tidak diundang tapi dibutuhkan, dan kemudian dilupakan begitu saja.
Dan mungkin di situlah “covenant” — perjanjian — dalam judul film ini menjadi ambigu. Apakah itu perjanjian antara dua manusia, atau antara bangsa yang mengklaim diri membawa keadilan namun tak pernah menepati janji?
Kita melihat John melawan birokrasi negaranya sendiri demi menepati kata-kata pada seorang penerjemah. Tapi, ironisnya, perjuangan itu terasa heroik justru karena sistemnya sendiri kejam. Negara yang bisa mengirim pasukan ke benua lain dalam hitungan jam, tiba-tiba tak bisa mengeluarkan satu keluarga dari Afghanistan tanpa tumpukan dokumen dan tanda tangan. Di situ, film ini tanpa sadar menjadi kritik paling jujur terhadap negaranya sendiri: Amerika adalah kekuatan besar yang pandai berperang, tapi buruk dalam menepati janji.
Namun The Covenant juga bukan film sinis. Ia tetap memuliakan hubungan personal di tengah kebrutalan geopolitik. Ahmed dan John adalah dua orang yang tidak seharusnya bertemu, tapi justru menemukan kemanusiaan di tengah perang. Dan mungkin itu satu-satunya kebenaran yang bisa diselamatkan dari reruntuhan moral perang modern: bahwa di balik seragam, paspor, dan ideologi, manusia hanya ingin selamat dan menepati janji pada orang yang pernah menolongnya.
Sinematografinya luar biasa — bukan sekadar indah, tapi komunikatif. Setiap frame seperti disusun dengan kesadaran penuh akan simbol. Langit yang lapang dan tanah berdebu seolah berkata: di medan perang, keindahan hanyalah kebetulan, bukan niat. Kamera Ed Wild menempatkan kita di antara dua realitas: kebanggaan militer dan ketakutan pribadi. Dan musik Christopher Benstead menambah kesan muram tanpa perlu banyak bicara.
The Covenant adalah film yang bisa dinikmati secara ringan — dengan tembak-menembak, ledakan, dan adegan heroik yang rapi — tapi jika kamu berhenti sejenak dan berpikir, ia berubah menjadi cermin yang memantulkan hipokrisi. Ia memperlihatkan bagaimana utang budi bisa menjadi alegori tentang kekuasaan: yang kuat menolong, yang lemah berterima kasih, dan keduanya berpura-pura setara padahal tidak pernah benar-benar sejajar.
Dan mungkin itu yang paling menyakitkan dari semua: dalam perang, kebaikan sering kali hanya bisa tumbuh di tanah yang sudah lebih dulu dihancurkan.
Ritchie menutup film ini dengan nada haru — John berhasil menepati janjinya, membawa Ahmed dan keluarganya keluar dari neraka yang ia tinggalkan. Tapi pertanyaan moral tetap menggantung di udara: siapa yang akan menepati janji kepada ribuan penerjemah lain yang tidak sempat diselamatkan? Siapa yang akan menjemput mereka?
Mungkin tidak ada. Karena dalam politik global, tidak semua utang budi dianggap penting.

Comments
Post a Comment