Kita selalu diajarin satu narasi klasik: pendidikan adalah masa depan bangsa. Masalahnya, kalau kamu lihat cara negara mengelola pendidikan hari ini, it doesn’t feel like “masa depan”. It feels like… side project.
Dan ini bukan opini kosong. Datanya ada. Polanya kebaca.
Mulai dari hal paling basic: guru.
Di atas kertas, negara sebenarnya sudah “lumayan niat”. Anggaran pendidikan bahkan dikunci minimal 20% dari APBN sejak amendemen UUD. Tahun 2024, angkanya tembus lebih dari Rp600 triliun.
Sounds impressive, right?
Namun, begitu kamu breakdown, realitanya agak… awkward.
Sebagian besar anggaran itu habis untuk belanja rutin. Seperti gaji ASN, transfer ke daerah atau program yang sifatnya administratif. Sementara masalah paling kronis, yaitu guru honorer, cuma diselesaikan setengah-setengah lewat skema seperti PPPK yang sampai sekarang implementasinya masih patchy.
Di lapangan, cerita klasik itu masih terjadi. Guru honorer kerja full, tapi digaji Rp300 ribu – Rp1 juta per bulan. Yes, itu bukan exaggeration. Itu real.
Dan respons sistem ke mereka? “Harap bersabar.” Atau versi lebih halusnya, “Tunggu kebijakan berikutnya.” It’s giving… delayed justice yang enggak pernah benar-benar sampai.
Lalu kita masuk ke layer kedua: beban administratif.
Ini yang sering enggak kelihatan dari luar, tapi efeknya massive.
Secara teori, digitalisasi pendidikan itu supposed to help. Ada berbagai platform: Dapodik, e-Rapor, berbagai dashboard dari kementerian. Semua terlihat modern, very “data-driven”, very “21st century”.
Namun, praktiknya? Guru jadi operator.
Waktu yang harusnya dipakai buat mikirin strategi ngajar, adaptasi ke kebutuhan murid, atau sekadar evaluasi pembelajaran, malah kepotong buat input data, ngejar deadline sistem, benerin error aplikasi sampai pada sinkronisasi yang kadang fail tanpa alasan jelas
Dan yang paling ironis, yang dinilai itu compliance, bukan kualitas belajar.
Kalau semua checklist aman, sistem bilang “good job”. Padahal muridnya belum tentu paham apa-apa. Kelas berubah jadi formalitas. Bukan karena gurunya yang enggak niat, tapi karena sistemnya yang mendorong ke sana.
Sekarang kita masuk ke bagian yang agak uncomfortable, tapi penting, prioritas negara terhadap pendidikan dan riset.
Kalau kamu bandingin secara global, belanja riset Indonesia itu consistently rendah. Rasio terhadap PDB masih di kisaran 0,2% – 0,3%.
Bandingkan dengan negara yang serius bangun knowledge economy seperti Korea Selatan di atas 4%. atau Jepang sekitar 3%. Bahkan Cina saja udah di atas 2%.
So yeah, we’re not even playing in the same league.
Dan ini bukan cuma soal angka. Ini soal arah.
Karena ketika riset enggak jadi prioritas, yang terjadi adalah, kita akan terus jadi konsumen pengetahuan, bukan produsen. Kita reaktif, bukan inovatif. Dan pendidikan akhirnya cuma jadi pipeline tenaga kerja, bukan ruang berpikir.
Di titik ini, muncul satu pertanyaan:
Apakah ini semua sekadar incompetence?
Atau memang ada insentif untuk mempertahankan kondisi seperti ini?
Karena gini, masyarakat yang terdidik dengan baik itu cenderung kritis. Mereka bertanya. Mereka challenge kebijakan. Mereka enggak gampang diarahkan.
Dan dalam sistem politik yang masih sangat transaksional, itu bisa jadi… inconvenient.
Saya enggak bilang ini konspirasi besar. Namun, kalau kamu lihat polanya: pendidikan selalu “penting secara retorik”, tapi “biasa aja secara eksekusi”.
It’s hard to ignore the pattern.
Sementara itu, negara cukup agresif di program-program jangka pendek.
Bansos, subsidi, bantuan langsung. Memang, itu semua penting, no doubt. Namun, sering kali dipakai sebagai solusi utama, bukan pelengkap.
Padahal kalau kita ngomongin sustainability, investasi paling logis itu tetap di pendidikan dan guru. Karena output-nya bukan cuma angka kemiskinan turun sementara. Namun, kapasitas manusia yang naik secara permanen.
Jadi, sekarang balik ke pertanyaan awal, kita ini sebenarnya mau bangun apa?
Kalau pendidikan terus diperlakukan sebagai kewajiban konstitusional yang harus “dipenuhi angka 20%”-nya aja, tanpa serius beresin akar masalah, ya hasilnya akan stuck di situ-situ aja.
Guru kelelahan. Murid kehilangan kualitas belajar. Riset jalan di tempat.
Dan kita akan terus bilang “pendidikan adalah masa depan”… sambil memperlakukan masa depan itu kayak afterthought.
Kalau guru enggak dihargai, itu bukan sekadar masalah profesi. Itu sinyal. Sinyal bahwa kita belum benar-benar sepakat kalau masa depan itu penting.
Comments
Post a Comment