Skip to main content

Semua Mau Punya Brand, Nggak Ada yang Mau Ngurus Kepemilikan

 

Di Indonesia, bikin bisnis itu surprisingly gampang. Dua orang cocok, satu ide jalan, sedikit modal, boom! Sebuah brand lahir. Kadang bahkan belum ada badan hukum, belum ada perjanjian, tapi sudah buka cabang.

Menariknya, hampir semua cerita sukses ini punya fase kedua yang sama: pecah, lalu rebutan merek. Dan anehnya, ini selalu terasa kayak kejadian yang “tidak terduga”. Padahal kalau dilihat dingin, ini bukan kejutan. Ini konsekuensi.

Ambil Ayam Goreng Suharti. Orang sering fokus ke dramanya: suami-istri pisah, lalu muncul dua versi brand. Satu pakai logo ayam, satu pakai foto Bu Suharti. Seolah-olah ini cerita tentang siapa yang lebih “asli”.

Padahal isu utamanya jauh lebih basic: dari awal, kepemilikan brand itu sebenarnya dipegang siapa? Dan kenapa pertanyaan sesederhana itu baru jadi relevan setelah semuanya retak?

Hal yang sama kebaca di Maicih. Ini bukan soal keluarga berantem, tapi soal arah yang sudah nggak sejalan. Satu ingin scale, satu ingin jaga identitas. Dua-duanya valid. Yang jadi masalah: tidak ada cara untuk beda tanpa harus pecah.

Jadinya absurd. Brand yang sama, visual yang hampir sama, cuma beda angle. Bukan karena strategi, tapi karena tidak ada mekanisme untuk menyelesaikan perbedaan tanpa menciptakan dua entitas baru.

Kasus Cap Kaki Tiga yang berujung jadi Cap Badak malah lebih dingin lagi. Tidak ada drama personal. Tidak ada konflik keluarga. Yang ada cuma satu hal: siapa yang pegang hak atas merek, dan siapa yang cuma pegang produksi.

Begitu relasi bisnisnya putus, jawabannya langsung kelihatan. Yang pegang merek lanjut. Yang produksi? Harus cari identitas baru. Tidak peduli sudah berapa lama bangun pasar.

Di titik ini sebenarnya polanya mulai kebaca. Namun, orang-orang masih suka menganggap tiap kasus itu unik, padahal struktur masalahnya repetitif.

Bahkan di Holycow Steakhouse, yang lebih modern, lebih “startup-ish”, ceritanya tetap mirip. Foundernya pecah, lalu brand ikut terbelah. Bukan karena tidak pintar, tapi karena dari awal tidak pernah benar-benar dipaksa untuk menjawab: kalau suatu saat kita tidak sepakat, siapa pegang apa?

Dan mungkin yang paling blunt itu Tempo Gelato. Ini bukan soal siapa yang membangun brand lebih dulu secara naratif. Ini soal siapa yang mendaftarkan lebih dulu secara legal. Kedengarannya teknis, tapi efeknya absolut.

Di Indonesia, itu cukup. Kamu bisa punya ide, punya toko, punya pelanggan, tapi kalau orang lain lebih dulu pegang pendaftaran merek, posisi kamu langsung berubah. Bukan lagi pemilik, tapi pihak yang harus mundur.

Menariknya, tidak semua orang sadar ini. Bahkan banyak yang masih kejebak narasi yang salah. Contoh paling sering: orang mengira Indomie dan Mie Gaga itu hasil pecah kongsi dramatis, lengkap dengan kalah di pengadilan.

Padahal enggak. Itu bukan konflik personal. Itu efek dari restrukturisasi besar setelah krisis ekonomi. Orang keluar dari sistem lama, lalu bikin bisnis baru. Dari luar kelihatan seperti “saingan dari dalam”, padahal sebenarnya itu pecahan ekosistem.

Dan di situ justru kelihatan kontrasnya. Ada kasus yang pecah karena konflik, ada yang pecah karena struktur berubah. Tapi dua-duanya tetap menghasilkan hal yang sama: brand jadi terfragmentasi, identitas jadi kabur, dan publik disuruh menebak mana yang “asli”.

Yang agak ironis, hampir semua pelaku bisnis takut pada hal yang sama: produk tidak laku, kalah saing, atau pasar berubah. Mereka fokus di depan, marketing, ekspansi, positioning.

Padahal dari semua kasus ini, yang menjatuhkan bukan itu. Bukan produknya yang gagal. Bukan pasarnya yang hilang. Yang gagal itu sesuatu yang bahkan jarang dibahas di awal: siapa sebenarnya yang memiliki bisnis itu.

Dan selama pertanyaan itu terus ditunda, atau dianggap tidak penting karena “ini kan masih kecil” atau “ini kan sama teman sendiri”, cerita yang sama akan terus berulang.

Brand baru akan terus muncul. Konflik baru akan terus terjadi.

Dan di akhir, selalu ada satu momen yang sama, ketika semuanya sudah telanjur besar, lalu orang baru sadar: harusnya dari awal, ini diberesin.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...