Sekarang realitas global itu lagi shifting dan kalau kamu masih mikir perang itu identik sama jet tempur gaya film Top Gun: Maverick, ya… kamu ketinggalan season.
Yang berseliweran di timeline medsos kita saat ini bukan F-16 adu manuver. Tapi benda kecil bersayap segitiga, suaranya kayak motor bebek kehabisan oli, terbang pelan, lalu… boom. Itu HESA Shahed 136. Drone kamikaze buatan Iran yang beberapa tahun terakhir dipakai Rusia di Ukraina. Murah, simpel, tapi bisa dikirim massal. Seratus. Dua ratus. Kayak flash sale, tapi isinya bahan peledak.
Secara konsep, ini bukan drone lucu buat cinematic pre-wedding pakai slow motion dan lagu Hindia. Ini loitering munition. Dia terbang cari target, bisa diprogram GPS, lalu menghantam dan meledak. One way trip. No refund. No return.
Yang bikin saya mikir bukan cuma karena dia bisa terbang ribuan kilometer. Tapi karena logika militernya berubah total. Ini bukan lagi soal siapa punya jet paling mahal. Ini soal siapa bisa produksi paling banyak, paling murah, dan paling sustain. Quantity is the new luxury.
Dan Amerika? Mereka obviously nggak tinggal diam. Muncullah Low-cost Uncrewed Combat Attack System alias LUCAS. Konsepnya mirip: drone serang murah yang bisa diproduksi banyak, diluncurkan dari truk, dari kapal, nggak perlu runway fancy. Strateginya clear, kalau lawan main swarm murah, ya jawabnya bukan pakai jet USD 80 juta per unit. Tapi lawan pakai swarm juga. Ini bukan perang prestige, ini perang kalkulasi.
Kamu sadar nggak sih betapa brutalnya pergeseran ini?
Dulu satu rudal jelajah itu event. Sekarang drone kamikaze bisa dikirim puluhan sekaligus untuk bikin sistem pertahanan udara kewalahan. Radar nggak cuma harus pintar. Dia harus tahan spam. Ini bukan lagi duel. Ini DDoS versi militer.
Sementara itu, di timeline lokal kita…
Indonesia dalam urusan drone masih punya dua wajah. Di satu sisi, TNI sebenarnya sudah mulai masuk ke level serius. Kita beli dan kerja sama produksi Bayraktar TB2 dari Turki. Drone ini sudah dipakai di Libya, Nagorno-Karabakh, Ukraina. Artinya bukan mainan. Ada juga rencana penguatan industri UAV dalam negeri lewat BUMN pertahanan.
Tapi di sisi lain, dalam realitas sehari-hari, per-drone-an kita lebih sering viral karena pungli izin terbang di lokasi wisata. Drone datang, satpam datang, lalu ada negosiasi kecil yang sangat lokal rasanya. Dunia lagi ngomongin swarm warfare, kita masih ribet bahas surat izin syuting buat video pre-wedding di bukit.
Saya nggak lagi ngejek. Ini cuma kontras yang absurd.
Di luar sana, drone jadi alat proyeksi kekuatan negara. Di sini, drone identik dengan konten cinematic couple lempar bunga sambil slow motion. Itu pun kadang lebih mahal izinnya daripada harga baterainya.
Masalahnya bukan cuma soal teknologi. Tapi soal mindset strategis.
Shahed-136 itu bukan hebat karena canggih luar biasa. Dia hebat karena affordable dan scalable. LUCAS juga bukan tentang AI super futuristik. Dia tentang efisiensi biaya dan kecepatan produksi. Negara-negara besar sekarang sadar: perang masa depan bukan cuma soal siapa paling pintar, tapi siapa paling adaptif dan paling cepat produksi massal.
Dan kita?
Kita sering terlalu nyaman jadi penonton. Kagum sebentar. Share sebentar. Lalu lanjut scroll. Padahal perubahan ini bukan isu jauh. Drone murah yang bisa terbang jauh dan akurat itu bukan cuma soal perang antarnegara. Itu soal bagaimana pertahanan udara, keamanan objek vital, bahkan infrastruktur sipil harus didesain ulang.
Kalau dunia sudah masuk era swarm drone, pertahanan model lama yang mahal dan eksklusif bakal kelabakan. Bayangin satu sistem pertahanan bernilai ratusan juta dolar dipaksa menembak jatuh drone murah yang harganya mungkin sepersekian persen. Itu bukan sustainable fight.
Oleh karena itu kita harus sadar diri. Bukan minder, tapi realistis.
Indonesia memang sudah mulai melangkah dengan akuisisi drone tempur dan pengembangan UAV lokal. Tapi ekosistemnya? Industri pendukungnya? Riset swarm? Electronic warfare? Anti-drone system murah? Itu PR yang nggak bisa cuma dijawab dengan beli beberapa unit lalu foto-foto seremoni.
Karena perang modern itu bukan cuma soal punya alat. Tapi soal punya sistem.
Dan sistem itu lahir dari kesadaran kolektif bahwa teknologi bukan cuma buat konten. Bukan cuma buat estetik. Tapi buat kedaulatan.
Ironisnya, di saat dunia sedang memperdebatkan etika AI dalam peperangan dan otomatisasi sistem senjata, kita masih terjebak pada drama izin terbang drone buat ambil angle pantai dari atas.
Saya nggak bilang semua harus jadi militeristik. Tapi minimal, jangan sampai kita cuma jadi konsumen teknologi tanpa pernah benar-benar masuk ke level produsen strategisnya.
Karena kalau tren ini terus jalan, lima sampai sepuluh tahun lagi, perang bisa lebih banyak diisi dengungan mesin kecil di langit daripada deru jet tempur. Dan saat itu tiba, yang siap bukan yang paling banyak bikin konten drone, tapi yang paling siap dengan arsitektur pertahanannya.
Dunia sudah masuk bab baru. Pertanyaannya simpel, kita mau jadi pemain, atau tetap nyaman jadi penonton dengan izin terbang yang lebih ribet daripada geopolitiknya sendiri?
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment