Katanya si Terompah lagi ngambek karena Spanyol allegedly nggak kasih wilayahnya dipakai buat kepentingan serangan ke Iran. Dramanya sih belum tentu se-epik timeline Twitter, tapi vibe-nya kebaca: geopolitik sekarang makin terasa kayak group chat keluarga yang admin-nya sudah sepuh semua dan sensiannya minta ampun.
Well.
Kalau kamu zoom out sedikit dan lihat panggung dunia hari ini, line-up-nya memang senior-senior semua. Raja Salman sudah 90. Mahmoud Abbas juga 90. Khamenei 86. Terompah 79. Anwar Ibrahim 78. Raja Charles 77. Netanyahu 76. Modi 75. Prabowo dan Shehbaz Sharif 74. Putin 73. Xi Jinping dan Erdogan 72. Al-Sisi 71. Ini bukan daftar tamu resepsi emas pernikahan. Ini adalah orang-orang yang literally menentukan arah perang, ekonomi global, sampai harga beras di dapur kamu.
Dan saya nggak sedang age-shaming. Pengalaman itu valuable. Wisdom itu mahal. Tapi ada satu pertanyaan yang uncomfortable namun perlu diajukan: ketika usia sudah di ujung karier, bahkan di ujung hidup, apakah keputusan yang diambil masih soal long-term stability… atau sudah shifting jadi soal legacy?
Karena jujur saja, dunia belakangan ini rasanya terlalu gampang panas. Timur Tengah memanas sedikit, langsung eskalasi. Eropa Timur belum selesai, retorika makin tinggi. Asia Timur juga nggak pernah benar-benar dingin. Setiap ketegangan terasa seperti ada ego besar yang ikut main. Dan ego + kekuasaan + usia lanjut + obsesi dikenang sejarah itu kombinasi yang… let’s say, not exactly calming.
Di titik tertentu, perang bisa berubah dari “last resort” menjadi “statement”. Sebuah cara untuk memastikan nama tercatat dalam buku sejarah. Bukan sebagai administrator yang stabil dan membosankan, tapi sebagai strong leader yang decisive. Masalahnya, yang menanggung konsekuensi bukan mereka yang sedang menghitung sisa bab hidupnya. Yang menanggung adalah generasi yang bahkan belum sempat daftar KPR.
Makanya ketika ada yang dulu memaksakan anak muda yang bahkan belum matang secara pengalaman untuk naik ke kursi wapres, argumennya jadi terasa ironis. Katanya regenerasi. Katanya biar ada energi baru. Tapi praktiknya? Setengah hati. Setengah eksperimen. Setengah dinasti. Jadinya bukan wisdom senior yang matang, bukan juga energi muda yang genuinely siap. It’s just power choreography.
Kita ini hidup di era ketika keputusan satu orang berumur 70–90 tahun bisa menggeser nasib jutaan orang di usia 20–30-an. Sementara yang muda sibuk debat di medsos, yang tua sibuk debat pakai misil. Kadang saya mikir, mungkin problemnya bukan semata usia. Problemnya adalah ketika sistem global terlalu lama dikunci oleh orang-orang yang sudah tidak punya cukup insentif untuk memikirkan dunia 30 tahun ke depan.
Karena kalau kamu masih punya 40 tahun hidup, kamu cenderung berpikir panjang. Kalau hidupmu sudah di bab penutup, godaan untuk bikin “ending yang dramatis” mungkin lebih besar.
Dan di situlah letak horornya.
Dunia bukan panggung farewell tour. Ini bukan konser reuni. Ini planet yang harus tetap jalan setelah mereka semua selesai dengan ambisi dan memoir masing-masing.
Tapi ya begitulah. Selama kursi kekuasaan lebih mudah dipertahankan daripada dilepaskan, selama politik lebih soal ego daripada estafet sehat, kita akan terus menyaksikan geopolitik rasa arisan keluarga yang penuh sindiran pasif-agresif.
Dan setiap kali ada negara ngambek karena pangkalan nggak dipinjamkan, saya cuma bisa mikir: ini urusan keamanan global… atau sekadar aki-aki baper yang merasa tidak dihormati?
Scary part-nya? Kadang bedanya tipis banget.
.jpeg)
Comments
Post a Comment