Kalimat “pokoknya ada” itu bukan sekadar slip of the tongue. Itu problem komunikasi yang kelihatan banget di era sekarang, karena standar publik sudah naik, tapi cara jawabnya masih pakai pola lama.
Waktu Teddy Indra Wijaya ditanya soal sumber anggaran, publik sebenarnya enggak minta hal yang aneh. Pertanyaannya straight forward: duitnya dari mana? Ini bukan pertanyaan filosofis, ini pertanyaan teknis. Jadi ekspektasinya juga simpel: kasih informational clarity.
Yang terjadi malah sebaliknya. Jawaban yang keluar terasa seperti message avoidance, secara teknis menjawab, tapi secara substansi enggak address core question. Di sinilah publik langsung nangkep: ini bukan lack of information aja, tapi ada gap di cara framing jawabannya.
Kalau ditarik ke belakang, pola kayak gini sebenarnya bukan hal baru. Di era Soeharto, komunikasi pejabat memang heavily structured. Figur seperti Moerdiono adalah contoh textbook dari high-context political communication.
Semua kalimatnya clean, formal, dan terlihat penuh. Namun, kalau dibedah pakai kacamata komunikasi, itu bukan selalu karena informasinya banyak. Itu karena dia main di strategic ambiguity, menyampaikan sesuatu yang terdengar jelas, tapi tetap membuka ruang interpretasi dan menutup detail yang sensitif.
Contoh paling klasik: bukan “pokoknya ada”, tapi “sudah sesuai mekanisme”. Secara message framing, ini kuat. Dia shifting fokus dari “apa isi jawabannya” ke “apakah prosesnya legitimate”. Publik diarahkan untuk percaya pada sistem, bukan mempertanyakan detail.
Dan di era itu, framing seperti ini works perfectly. Kenapa? Karena environment-nya mendukung one-way communication model. Media enggak dalam posisi untuk aggressively challenge, dan publik enggak punya akses untuk cross-check secara real-time.
Fast forward ke era Prabowo Subianto, game-nya berubah total.
Sekarang kita hidup di ekosistem low-context, high transparency demand. Publik enggak puas dengan framing. Mereka butuh substance + specificity. Kalau enggak ada detail, itu langsung kebaca sebagai red flag.
Di titik ini, teknik lama seperti strategic ambiguity mulai kelihatan glitch. Bukan karena tekniknya salah, tapi karena konteksnya sudah enggak kompatibel.
Jadi ketika Teddy kasih jawaban yang terasa “pokoknya ada”, publik langsung ngebaca itu sebagai information gap, bahkan credibility issue. Bukan karena satu kalimat itu fatal banget, tapi karena dia gagal memenuhi ekspektasi dasar: answer the question being asked.
Kalau dibandingkan dengan Moerdiono, kesannya jadi jomplang. Yang satu kelihatan polished, yang satu kelihatan underprepared. Namun, ini misleading kalau dilihat cuma di permukaan.
Moerdiono operate dalam sistem yang memungkinkan message control hampir penuh. Dia enggak perlu improvisasi di ruang publik yang hostile. Setiap statement sudah melalui proses filtering, bahkan bisa dibilang semi-scripted.
Teddy sebaliknya. Dia ada di ruang real-time communication, di mana delay itu luxury, dan setiap jawaban harus langsung survive di arena publik yang sangat reaktif. Satu kalimat bisa langsung dipotong, dipelintir, dan jadi narrative sendiri.
Di sini sebenarnya kita melihat pergeseran besar: dari communication as control ke communication as performance. Dulu, yang penting pesan terkirim sesuai garis. Sekarang, yang penting pesan itu bisa bertahan dari scrutiny publik.
Makanya muncul ilusi yang agak tricky.
Dulu, komunikasi terasa lebih “berisi” karena enggak banyak yang bisa mengauditnya. Sekarang terasa lebih “kosong” karena semua orang bisa langsung nge-test konsistensinya.
Kalau ditarik agak tajam:
yang dulu itu well-packaged opacity, yang sekarang sering jadi poorly-managed transparency.
Dua-duanya punya problem.
Yang satu terlalu tertutup sampai terlihat rapi, sedangkan yang lainnya terlalu terbuka sampai kelihatan berantakan. Dan di tengah itu, publik akhirnya jadi judge yang jauh lebih demanding.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi siapa yang lebih pintar ngomong. Namun, apakah pejabat hari ini sudah punya communication competence yang sesuai dengan tuntutan zaman, bukan cuma untuk menjaga citra, tapi untuk deliver informasi yang benar-benar bisa diuji.
Karena di era sekarang, “pokoknya ada” itu bukan jawaban.
Itu justru awal dari pertanyaan berikutnya.
.jpeg)
Comments
Post a Comment