Skip to main content

Dari Rape Jokes ke KBGO: Kampus, Negara, dan Batas yang Sering Diabaikan

 

Awalnya “cuma bercanda”. Ujungnya, 16 mahasiswa terancam sanksi etik sampai dikeluarkan.

Kasus di Universitas Indonesia ini nunjukin satu hal yang sebenarnya sudah lama ada: garis antara “jokes” dan kekerasan itu sering banget di-blur, terutama di ruang online.

Begitu masuk ranah digital, candaan seksis bisa berubah jadi KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online). Dan menurut Komnas Perempuan, ini sudah masuk kategori kekerasan seksual berbasis elektronik dalam UU TPKS.

Jadi, ini bukan lagi soal “sensitif atau enggak”. Ini sudah masuk ranah hukum.

Kampusnya sendiri sudah bergerak, satgas internal turun tangan, para terduga pelaku dinonaktifkan sementara. Namun, reaksi publik langsung naik level: banyak yang minta transparansi, bahkan dorong supaya kasusnya dibawa ke ranah pidana.

Dan di sini pertanyaannya mulai tricky, "Cukup enggak sih, cuma diselesaikan di dalam kampus?"

Secara aturan, kampus memang punya kewajiban. Di Permendikbudristek No. 55 Tahun 2024, setiap perguruan tinggi wajib punya Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan. Bahkan harus dibentuk maksimal 6 bulan sejak aturan itu berlaku.

Scope-nya juga luas, enggak cuma kekerasan seksual, tapi juga verbal, psikis, perundungan, sampai diskriminasi.

Di atas kertas, sistemnya sudah ada. Namun, realitanya, kasusnya masih berulang.

Data dari JPPI mencatat ratusan kasus dalam waktu singkat, dan kekerasan seksual jadi yang paling dominan.

So… what’s missing?

Ada gap antara punya aturan dan menjalankan aturan.

Satgas ada, tapi belum tentu dipercaya.
Proses ada, tapi belum tentu transparan.
Sanksi ada, tapi belum tentu bikin jera.

Makanya dorongan untuk bawa ke ranah hukum itu muncul, karena ada kekhawatiran soal impunitas. Diselesaikan internal, tapi enggak benar-benar menyentuh akarnya.

Di sisi lain, ini juga jadi refleksi yang agak uncomfortable. Masalahnya bukan cuma di pelaku, tapi di kultur yang memungkinkan “rape jokes” dianggap normal sejak awal.

Kalau dari awal sudah dianggap “cuma bercanda”, ya escalation ke bentuk yang lebih serius jadi kelihatan kayak lanjutan, bukan pelanggaran.

Dan di titik ini, peran negara jadi krusial, bukan cuma hadir setelah kasus viral, tapi juga di pencegahan.

Mulai dari, edukasi soal consent dan batasan, penguatan mekanisme pelaporan, sampai memastikan korban punya ruang aman untuk speak up tanpa takut backlash.

Karena realitanya, enggak semua korban langsung berani bicara. Dan tanpa dukungan yang proper, banyak kasus berhenti di diam.

Jadi ini bukan sekadar soal satu kampus atau satu kasus.

Ini soal sejauh mana kita serius menganggap kekerasan berbasis gender, terutama yang “dibungkus candaan”, sebagai masalah yang nyata.

By the way, kalau kamu mengalami atau melihat kekerasan berbasis gender, ada bantuan yang bisa diakses: SAPA 129 (telepon 129 / WhatsApp 08111-129-129) atau kanal pengaduan Komnas Perempuan.

Karena kadang, langkah pertama itu bukan speak up di publik, tapi tahu dulu: kamu enggak sendirian.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...