Skip to main content

e-KTP dari 2011, Tapi Kita Masih Fotokopi: Jadi Selama Ini Ngapain Aja?

Indonesia punya e-KTP dari 2011. Naumn, sampai hari ini, kamu masih disuruh fotokopi.

Di era semua orang udah scan QR buat bayar parkir, birokrasi kita masih minta kertas yang literally hasil copy dari kartu yang katanya… elektronik.

Ini bukan ironi lagi. Ini udah habit.


Isu ini naik lagi gara-gara Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mulai nanya hal yang sebenarnya semua orang udah lama kepikiran, ke Bima Arya, "kalau datanya udah digital, kenapa kita masih hidup di mesin fotokopi?"

And the answer is so predictable.

Katanya karena Identitas Kependudukan Digital masih belum optimal. Baru sekitar 10% data yang ke-input. Which basically means, sistemnya belum jadi.


Yang agak lucu atau mungkin menyedihkan, ini bukan masalah baru. e-KTP dari awal dijual sebagai “solusi.” Satu identitas, semua beres. Enggak perlu bawa dokumen ini-itu, enggak perlu isi ulang data berkali-kali.

It was supposed to be the system.

But somehow, 15 tahun kemudian, kita malah bikin sistem baru lagi.

IKD.

Jadi, sekarang ceritanya yang lama belum beres, kita bikin layer baru, dengan harapan… kali ini berhasil. Saya enggak tahu ini optimism atau denial.


In this stage kamu mulai sadar, problemnya bukan di “belum digital.” Problemnya tuh kita setengah digital. Kayak mau pindah ke cashless tapi masih nyimpen receh di semua kantong.

Semua orang ngomong soal integrasi data, tapi tiap instansi masih jalan sendiri-sendiri.

Bank punya sistem sendiri. Dukcapil punya sendiri. BPJS beda lagi. Pajak beda lagi. Data kamu ada di mana-mana, tapi enggak ada yang benar-benar connect.

Jadi solusi yang paling aman buat mereka? Minta kamu bawa ulang datanya. In paper.


Makanya jangan heran kalau tiap urusan selalu mulai dari nol.

Isi nama. Alamat. NIK. Nama ibu kandung. Lagi. Lagi. Lagi. Padahal semua itu harusnya udah ada di satu sistem yang sama.

Namun, karena sistemnya nggak pernah beneran nyatu, yang jadi “jembatan” itu ya… kamu. Dan tumpukan fotokopi kamu.


Terus pemerintah bilang: “tenang, kita lagi dorong IKD kok.”

Oke.

Namun, kalau progress-nya baru 10%, dan kita udah 15 tahun di fase “menuju digital,” wajar dong kalau orang mulai skeptis. Ini beneran roadmap, atau cuma ganti nama dari problem lama?

Karena jujur aja, kita udah pernah dijanjiin hal yang sama waktu e-KTP pertama kali muncul. Dan sekarang kita disuruh percaya lagi.


Yang jarang diomongin: ini bukan soal teknologi yang kurang canggih.

Indonesia enggak kekurangan engineer. Enggak kekurangan server. Yang kurang itu… willingness buat beresin kekacauan antar lembaga.

Karena integrasi data itu artinya harus ada yang ngalah. Harus ada yang buka akses. Harus ada standar yang disepakati. Dan itu biasanya lebih ribet dari sekadar bikin aplikasi baru.


Meanwhile, di level paling bawah, enggak ada yang berubah.

Kamu tetap ke kelurahan, tetap ke bank, tetap ke kantor apa pun dan ujung-ujungnya, “fotokopi KTP ya.”

Kadang bahkan diminta lebih dari satu. Just in case.


Jadi, sekarang pertanyaannya simple:

Ini kita lagi bangun sistem digital, atau cuma digitalisasi tampilan dari birokrasi lama?

Karena kalau ujungnya masih fotokopi, itu bukan transformasi. Itu cuma upgrade kosmetik.


Dan jujur aja, setelah 15 tahun, yang bikin capek bukan prosesnya. Namun, janji bahwa “sebentar lagi beres”, halyang enggak pernah benar-benar terjadi. 



Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...