Nama yang sama, vibe yang beda jauh, tapi sama-sama bikin orang uncomfortable, dengan alasan yang nggak interchangeable.
Versi pertama lahir di Eropa tahun 1930-an. “Erika” ditulis oleh Herms Niel dan kemudian melekat kuat dengan militer N4z1 Germany di era Perang Dunia II. Secara tekstual, ini lagu yang almost innocent. Ceritanya tentang seorang pria yang merindukan perempuan bernama Erika, yang juga diasosiasikan dengan bunga heather. Soft, bahkan agak wholesome kalau dilepas dari konteks.
Masalahnya, lagu itu nggak pernah hidup di ruang hampa.
Begitu jadi bagian dari keseharian tentara N4z1, “Erika” berubah fungsi. Bukan cuma hiburan, tapi juga elemen pembentuk identitas kolektif militer. Ritmenya repetitif, mudah diingat, gampang dinyanyikan bareng, perfect untuk bonding pasukan. Dan di situlah letak problemnya, lagu ini ikut melekat pada rezim yang bertanggung jawab atas kekerasan sistemik dan gen0s1da.
Respon publik hari ini cenderung konsisten: cautious. Di banyak konteks, memutar atau menyanyikan lagu ini bisa dianggap tone-deaf, bahkan berpotensi dibaca sebagai glorifikasi simbol-simbol N4z1. Ada juga yang mencoba memisahkan karya dari konteks, arguing bahwa ini “cuma lagu rakyat militer”, but honestly, argumen itu sering collapse begitu konteks sejarahnya dibawa masuk.
Jadi kritik utamanya bukan di lirik, tapi di sejarah penggunaannya. Ini bukan tentang apa yang dinyanyikan, tapi siapa yang menyanyikan, kapan, dan dalam sistem seperti apa.
Sekarang lompat ke Bandung.
“Erika” versi HMT-ITB datang dari dunia yang kelihatannya jauh lebih ringan: kehidupan kampus, tepatnya dari Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang. Lagu ini sudah eksis cukup lama sebagai bagian dari tradisi internal, dinyanyikan bareng, jadi semacam anthem bonding. Secara fungsi sosial, mirip dengan versi Jerman tadi: collective singing, shared identity, sense of belonging.
Bedanya, problemnya bukan di sejarah tapi di isinya.
Versi ini dikenal karena liriknya yang eksplisit, vulgar, dan cenderung objektifikasi perempuan. Nama “Erika” di sini bukan simbol puitis, tapi objek narasi seksual yang disampaikan dengan cara yang, let’s be honest, nggak subtle sama sekali.
Selama bertahun-tahun, ini hidup sebagai “tradisi internal”. Aman karena confined di lingkaran sendiri. Namun, begitu masuk ke ruang publik, lewat video yang viral, suddenly konteksnya berubah. Orang luar nggak punya attachment emosional ke tradisi itu. Yang mereka lihat cuma: sekelompok mahasiswa menyanyikan lagu dengan lirik yang merendahkan perempuan, rame-rame, tanpa filter.
Respon publik? Predictable, tapi tetap keras. Kritik soal seksisme, normalisasi pelecehan verbal, sampai pertanyaan klasik: “Ini di mana bagian lucunya?”
Di sisi lain, ada juga pembelaan dari dalam: ini cuma lagu lama, nggak ada niat jahat, bagian dari budaya internal. Tapi argumen itu mulai goyah ketika dihadapkan dengan standar sosial yang sudah berubah. Yang dulu dianggap “biasa aja”, sekarang kelihatan problematic, dan internet nggak kenal konsep “ini kan internal doang”.
Kalau ditarik garis besar, dua lagu ini punya pola yang oddly mirip. Keduanya catchy, dinyanyikan kolektif dan jadi alat bonding
Tapi kontroversinya datang dari dua arah berbeda.
Versi N4z1 bermasalah karena konteks sejarah dan asosiasi politiknya. Sedangkan versi HMT-ITB bermasalah karena konten dan nilai yang dibawanya di masa sekarang.
Satu dibebani masa lalu yang gelap, satu dikritik karena gagal membaca masa kini.
Dan di dua-duanya, ada benang merah yang agak subtle tapi penting: lagu bukan cuma soal lirik atau melodi. Dia hidup dalam konteks sosial. Begitu konteks itu berubah, entah karena waktu, atau karena audiens, maknanya ikut berubah.
Yang sering kejadian adalah, orang di dalam lingkaran merasa semuanya fine., tapi yang di luar melihatnya sebagai red flag. Gap itu yang kemudian meledak jadi kontroversi.
Jadi ketika sebuah lagu dipertahankan dengan alasan “tradisi” atau “ini cuma lagu”, biasanya justru di situ masalahnya mulai kelihatan. Karena neither history nor society benar-benar static.
Dan nama “Erika”, somehow, jadi contoh aneh tentang bagaimana satu nama bisa carry dua jenis masalah yang completely different, tapi sama-sama susah diabaikan.
.jpg)
Comments
Post a Comment