Skip to main content

Konser K-Pop Lagi? Ini Diplomasi Budaya atau Government Lagi Butuh Distraction?

 

Rencana Prabowo Subianto buat nambah konser K-Pop langsung terasa janggal, bukan karena konsernya, tapi karena timing-nya. Di saat PHK naik, pengangguran jutaan, kebijakan yang di-highlight justru… hiburan.

Dan itu bukan sekadar tone-deaf. Itu problem framing.


Narasinya dibungkus rapi: diplomasi budaya hasil pertemuan dengan Lee Jae-myung. Bahkan disebut sebagai sesuatu yang “dirasakan langsung oleh rakyat.” Sounds good. Clean. Marketable.

Namun, kalau kamu tarik sedikit ke bawah permukaan, klaim ini langsung goyah.

“Dirasakan langsung” implies broad impact. Mass. Inclusive. Konser K-Pop? Not even close.

Aksesnya terbatas. Tiket mahal. Lokasi di kota besar. Audience-nya spesifik. Ini bukan kebijakan publik yang menyentuh mayoritas, ini event-driven consumption untuk segmen tertentu.

Jadi, kalau ini dijual sebagai kebijakan yang “pro-rakyat,” kita harus jujur: rakyatnya itu highly segmented.


Sekarang tarik ke konteks yang lebih real.

Data menunjukkan sekitar 88 ribu pekerja kena PHK di 2025. Tahun sebelumnya sudah 77 ribu. Trend-nya naik, bukan turun. Di saat yang sama, sekitar 7,35 juta orang masih menganggur.

Ini bukan angka kecil. Ini structural issue. Dan di tengah situasi kayak gini, pemerintah memilih untuk push narasi konser K-Pop sebagai deliverable kebijakan.

Do you see the disconnect?


Pendukungnya mungkin bilang: “Ini kan ekonomi kreatif, ada multiplier effect.” Sure, ada perputaran uang. Venue jalan. Vendor hidup. UMKM mungkin kebagian. Namun, scale-nya terbatas dan sifatnya sementara.

Bandingkan dengan kebutuhan real. Penciptaan lapangan kerja yang stabil, peningkatan skill tenaga kerja, atau industrial policy yang bisa absorb jutaan orang. Konser itu event. Bukan sistem. Dan kebijakan publik yang serius enggak bisa bergantung pada event.


Masalah lain yang jarang dibahas: ini bukan cuma soal ekonomi, tapi soal positioning industri.

K-Pop adalah produk global dengan mesin industri yang super solid. Ketika kita terus jadi tuan rumah untuk produk luar, tanpa strategi yang jelas buat push industri lokal, yang terjadi bukan kolaborasi tapi dominasi.

Local creatives jadi penonton di rumah sendiri. Dan kalau negara enggak hati-hati, ini bisa jadi sinyal: kita lebih nyaman jadi market daripada jadi producer.


Pemerintah juga highlight bahwa dari kunjungan ke Korea Selatan ada kerja sama senilai 10 miliar dolar AS. Good. Itu konkret. Itu measurable.

Namun, justru karena ada hasil besar kayak gitu, makin aneh ketika yang diangkat ke publik adalah konser K-Pop. It feels like… misplaced emphasis.

Kayak ada kebutuhan untuk menunjukkan sesuatu yang cepat, visible, dan populer, meskipun dampaknya enggak fundamental.


Di titik ini, pertanyaannya jadi simpel:

Apakah konser K-Pop benar-benar “dirasakan langsung oleh rakyat”?
Atau cuma oleh mereka yang memang punya akses dan daya beli?

Apakah ini strategi soft power yang matang?
Atau sekadar borrowing excitement dari negara lain?

Dan yang paling penting:
di tengah krisis ketenagakerjaan, ini prioritas yang tepat atau distraction yang nyaman?


To be honest, ini lebih kelihatan seperti policy yang ingin terasa relevan, bukan yang benar-benar relevan. Karena real urgency hari ini bukan kurangnya konser, tapi kurangnya pekerjaan yang layak.

Dan itu dua dunia yang very, very far.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...