Skip to main content

Netralitas yang Mulai Blur: Ketika Indonesia Terjebak di Forum yang Salah

 

Narasi “peran aktif Indonesia dalam perdamaian dunia” adalah sebuah narasi lama yang nyaman, tapi makin sulit dipertahankan tanpa terlihat… selective.

Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon Selatan. Bukan dalam konteks perang terbuka Indonesia, tapi saat menjalankan mandat perdamaian. Secara teknis, ini bagian dari kontribusi global. Secara politis, ini mulai terasa seperti posisi yang ambigu, bahkan kontradiktif.

Indonesia selama ini cukup konsisten: pro-Palestina, anti-agresi, dan selalu positioning diri sebagai negara yang berdiri di sisi hukum internasional. Namun, sekarang muncul satu pertanyaan yang uncomfortable, kalau dua aktor utama dalam Board of Peace justru adalah pihak yang dianggap agresor oleh sebagian besar publik Indonesia, sebenarnya Indonesia sedang duduk di meja yang mana?

Ini bukan soal moral outrage semata. Ini soal coherence.

Karena begini, kamu tidak bisa secara konsisten mengecam tindakan militer Israel di satu forum, lalu di saat yang sama tetap berada dalam struktur yang secara politis memberi ruang legitimasi pada aktor yang sama. At least, bukan tanpa konsekuensi persepsi.

Dan di era sekarang, persepsi itu bukan hal kecil. Itu bagian dari politik luar negeri itu sendiri.

Kasus gugurnya prajurit TNI di Lebanon memperlihatkan satu hal yang selama ini mungkin diabaikan: risiko itu nyata, dan tidak selalu sebanding dengan leverage yang didapat. Indonesia tidak punya kontrol langsung atas eskalasi di lapangan, tapi tetap harus menanggung konsekuensinya, baik secara militer maupun domestik.

Pemerintah memang sudah mengambil langkah standar: mengecam, meminta investigasi, dorong transparansi di Dewan Keamanan PBB. Secara prosedural, itu semua on point. Tapi di level yang lebih strategis, respons seperti ini mulai terasa reaktif, bukan reflektif.

Tidak ada indikasi bahwa Indonesia sedang mempertanyakan ulang kerangka besar keterlibatannya.

Padahal tekanan domestik mulai naik. Akademisi, anggota DPR, dan publik mulai mempertanyakan: apakah keterlibatan ini masih sejalan dengan mandat konstitusi, atau justru mulai mengaburkannya?

Dan di sini letak problem utamanya, bukan pada partisipasi itu sendiri, tapi pada ketidaksinkronan antara posisi normatif dan praktik diplomasi.

Indonesia ingin terlihat sebagai negara yang konsisten memperjuangkan keadilan global. namun, konsistensi itu jadi questionable ketika dalam praktiknya, Indonesia tetap engage dalam forum yang secara struktur tidak netral.

Yes, diplomacy is messy. Tidak semua forum bisa ideal. Kadang memang harus engage dengan pihak yang tidak sepenuhnya sejalan. Tapi ada titik di mana engagement berubah menjadi endorsement atau setidaknya terlihat seperti itu.

Dan itu titik yang sekarang mulai diperdebatkan.

Desakan untuk keluar dari Board of Peace sebenarnya bukan sesuatu yang radikal. Ini lebih ke bentuk koreksi arah. Sebuah reminder bahwa kebijakan luar negeri bukan cuma soal hadir di sebanyak mungkin meja, tapi juga soal memilih meja yang tepat.

Karena pada akhirnya, ini bukan sekadar soal Lebanon, atau bahkan Israel-Palestina. Ini soal bagaimana Indonesia mendefinisikan dirinya sendiri di panggung global.

Apakah tetap sebagai negara yang konsisten dengan prinsipnya, even when it’s inconvenient? Atau mulai kompromi, pelan-pelan, sampai garisnya sendiri jadi blur?

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah Indonesia benar-benar belum sadar, atau sebenarnya sudah, tapi memilih untuk tidak terlalu terlihat peduli?

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...