Ada sesuatu yang agak dark comedy tentang hidup di Indonesia.
Negara ini suka sekali ngomong soal “kekayaan alam melimpah”. Nikel, batu bara, sawit, migas, bonus demografi, Indonesia emas, hilirisasi, Ai, dan semua jargon ekonomi yang terdengar keren dan sophisticated, yang biasanya diucapkan dengan ekspresi sangat optimistis di ballroom hotel bintang lima.
Namun, lucunya… begitu buka APBN, ternyata yang paling banyak membiayai negara bukan tambang, tapi manusia yang tiap pagi ngeluh di commuter line sambil buka mobile banking dan berharap saldonya masih punya harga diri.
Iya.
Kamu.
Kamu yang slip gajinya dipotong.
Kamu yang beli kopi kena pajak.
Kamu yang belanja online kena pajak.
Kamu yang hidupnya already exhausting tapi tetap diwajibkan kontribusi demi “pembangunan nasional”.
Dan APBN 2026 basically bilang itu secara terang-terangan.
Sekitar 85% target pendapatan negara datang dari perpajakan. Which is honestly lumayan brutal kalau dipikir lama-lama. Karena artinya negara ini sebenarnya tidak hidup dari SDA.
Negara ini hidup dari orang kerja.
Dari orang yang bangun pagi walau existential crisis.
Dari orang yang interview berkali-kali.
Dari orang yang survive corporate life sambil pura-pura “I’m okay”.
Dari orang yang tiap tanggal muda merasa kaya raya lalu tanggal tua makan mie sambil scrolling LinkedIn lowongan kerja.
Dan bagian paling menariknya: porsi pajak terbesar datang dari Pajak Penghasilan alias PPh.
Very poetic.
Kamu cari kerja sendiri.
Burnout sendiri.
Lembur sendiri.
Kena pressure sendiri.
Kena HR yang ghosting sendiri.
Lalu pas finally punya penghasilan… negara muncul seperti DLC wajib: “wah keren ya kamu produktif. anyway sini sebagian.”
Dan no, ini bukan tulisan anti pajak. Catet ya, teman-teman yang bekerja di Kantor Pajak. Karena semua negara modern memang hidup dari pajak.
Yang bikin orang mulai sinis adalah: duitnya dipakai dengan vibes seperti apa?
Karena di saat rakyat disuruh memahami defisit…
disuruh maklum kondisi ekonomi…
disuruh sadar fiskal negara lagi berat…
negara tetap punya kemampuan unik untuk terlihat sangat nyaman belanja. Seperti pengadaan alat makan triliunan, motor listrik triliunan, tablet ratusan miliar, hingga lisensi Zoom miliaran.
Dan setiap kali rakyat bingung, selalu ada jawaban sakti: “itu kan demi rakyat.”
Yang technically mungkin benar.
Namun, tetap enggak menghilangkan fakta bahwa banyak rakyat sekarang hidup dalam mode survival berkepanjangan.
Harga rumah absurd.
Biaya hidup naik terus.
Gaji naiknya spiritually.
PHK di mana-mana.
Fresh graduate diperlakukan seperti karakter bonus yang enggak penting dalam game ekonomi nasional.
Meanwhile target pajak selalu optimistis.
Always.
Negara seperti punya keyakinan spiritual bahwa rakyat masih punya duit tersembunyi somewhere. Padahal sebagian rakyat buka aplikasi m-banking saja sudah kayak ritual horror. Dan makin ke sini, posisi middle class Indonesia makin aneh.
Mereka bukan cuma miskin, tapi juga enggak cukup kaya buat aman. Jadi, akhirnya dijadikan mesin utama pembiayaan negara.
Kerja dipajaki.
Belanja dipajaki.
Punya kendaraan dipajaki.
Investasi dipajaki.
Punya rumah dipajaki.
Basically hidup di Indonesia itu seperti subscription service yang enggak pernah benar-benar bisa kamu cancel.
Makanya diskusi soal pajak sekarang makin emosional. Karena ini bukan cuma soal uang. Ini soal trust.
Pajak itu kontrak sosial.
Rakyat bayar.
Negara mengelola.
Masalah muncul ketika rakyat mulai merasa kontribusinya dianggap kewajiban mutlak, sementara transparansi dan sensitivitas negara terasa seperti optional feature. Dan itu yang sekarang mulai bikin banyak orang capek.
Karena generasi hari ini tumbuh sambil lihat: korupsi, pejabat flexing, anggaran absurd, birokrasi ribet, dan pemerintah yang kadang lebih cepat bikin slogan daripada menyelesaikan masalah.
So yes.
Negara memang butuh pajak.
Namun, negara juga harus sadar: kalau hampir seluruh hidup fiskalnya bergantung pada rakyat… maka rakyat eventually enggak akan lagi merasa seperti warga negara.
Mereka akan mulai merasa seperti customer yang dipaksa bayar membership mahal untuk layanan yang kualitasnya masih beta version.

Comments
Post a Comment