Skip to main content

Negara +62 dan Penyakit Paling Kronis: Anti Dikoreksi

 

Ada momen lucu di Indonesia yang terus berulang sampai saya curiga ini bukan masalah oknum lagi, tapi already jadi operating system nasional.

Ketika ada kesalahan, fokus utamanya bukan mencari apakah memang salah, tapi mencari cara supaya yang salah tetap terlihat paling benar. Dan anehnya, pola beginian muncul di mana-mana. Dari ruang rapat kementerian sampai lomba anak sekolah. Scale-nya beda. Mentalitasnya sama.

Kasus LCC 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat 2026 kemarin misalnya. Orang-orang sibuk debat soal minus lima, soal siapa benar siapa salah, soal video viral, soal keputusan juri. Namun, semakin saya lihat, semakin terasa kalau isu sebenarnya bukan itu.

Yang menarik justru reaksi setelah dikritik. Karena di Indonesia, kritik sering dianggap bukan sebagai proses koreksi, tapi sebagai ancaman harga diri.

Makanya begitu ada yang mempertanyakan keputusan, respons pertama kita hampir selalu defensif. Bukan, “coba kita cek lagi” tapi, “siapa kamu berani mempertanyakan?”

Very +62 coded.

Dan ini yang bikin momen siswi itu jadi menarik. Bukan karena dramatis. Justru karena dia tenang.

Di depan juri. Di tengah lomba. Di bawah tekanan. Dia tetap mempertahankan jawaban yang dia yakini benar. Namun, caranya tetap sopan. Tetap pakai “izin”. Tetap pakai nada hormat.

Honestly, itu lebih dewasa daripada banyak debat politik nasional.

Karena kebanyakan orang Indonesia diajarkan sopan… tapi bukan diajarkan berpikir kritis. Kita diajarkan hormat pada otoritas, tapi jarang diajarkan bahwa otoritas juga bisa salah.

Akhirnya lahirlah budaya aneh: pejabat enggak boleh dikoreksi, senior enggak boleh dibantah, keputusan enggak boleh dipertanyakan, dan kalau ada yang protes dianggap bikin suasana enggak kondusif.

Padahal mungkin suasananya memang sudah enggak kondusif dari awal.

Yang bikin makin ironis, teknologi sekarang sebenarnya sudah mempermudah evaluasi. Tinggal putar ulang rekaman. Selesai. Bahkan sepak bola yang isinya orang dorong-dorongan sambil pura-pura cedera saja punya VAR.

Ini lomba pendidikan. Harusnya lebih gampang.

Namun, yang sering terjadi di Indonesia bukan pencarian kebenaran. Yang penting consensus terlihat solid. Mau benar atau enggak itu urusan nanti. Yang penting jangan ada yang mempermalukan sistem.

Dan itu penyakit birokrasi kita banget.

Kadang sebuah institusi sudah tahu ada kemungkinan salah. Namun, karena takut kehilangan wibawa, akhirnya semua orang dipaksa ikut mempertahankan narasi yang sama. Lama-lama bukan mencari fakta lagi, tapi menjaga ego kolektif.

Makanya kita sering melihat pola yang identik di mana-mana.

Ketika rakyat mengkritik kebijakan, yang dicari malah typo tweet-nya.
Ketika mahasiswa demo, yang dibahas malah almamaternya.
Ketika ada whistleblower, yang diserang malah kepribadiannya.
Ketika ada jurnalis mengungkap kasus, yang dipermasalahkan justru “motif”-nya.

Substansi hilang. Yang penting balik menyerang. It’s honestly fascinating.

Negara lain sibuk membangun culture of accountability. Kita malah sibuk membangun culture of “pokoknya jangan bikin atasan malu.” Makanya banyak pejabat di sini terlihat alergi terhadap kata sederhana yang bernama evaluasi.

Karena bagi sebagian orang berkuasa, mengakui kesalahan terasa lebih menakutkan daripada melakukan kesalahan itu sendiri. Dan dampaknya panjang.

Kalau anak muda mulai melihat bahwa berbicara baik-baik tetap enggak didengar, lama-lama mereka akan sampai pada dua kesimpulan.

Pertama: percuma bicara.
Kedua: yang penting bukan benar, tapi siapa yang punya kuasa.

Nah, ini bahaya.

Karena kepercayaan publik runtuh bukan selalu karena korupsi besar atau skandal miliaran. Kadang dimulai dari hal-hal kecil yang terlihat sepele, tapi terus berulang tanpa pernah mau dikoreksi.

Lomba sekolah.
Rapat RT.
Kampus.
Instansi.
Birokrasi.

Pattern-nya sama semua.

Yang paling keras bukan yang paling benar.
Yang paling banyak bukan yang paling tepat.
Yang paling berkuasa bukan berarti paling masuk akal.

Namun, di Indonesia, kadang kalau satu ruangan sudah sepakat terhadap sesuatu, kebenaran objektif mendadak terasa opsional.

Selamat datang di Bikini Bottom versi birokrasi.

Tempat ketika semua orang salah bersama-sama, itu dianggap lebih aman daripada ada satu orang yang benar sendirian.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...