Kenap semakin serius masalah ekonominya, malah semakin santai kalimat yang keluar dari mulut pejabat di republik ini?
Rupiah melemah? “Tenang.”
Dollar naik? “Fundamental kuat.”
Pasar mulai panik? “Rakyat desa juga nggak pakai dollar kok.”
Jujuuuur, kalimat terakhir itu sounds familiar banget.
Bukan karena netizen Indonesia kreatif bikin meme. Namun, karena secara historical, pola kalimat seperti ini juga muncul di negara lain yang sedang mengalami krisis kepercayaan ekonomi. Salah satu contohnya di Zimbabwe era Robert Mugabe.
Kalau diperhatikan, narasinya literally sama vibes-nya.
Mugabe dulu juga berkali-kali meremehkan pelemahan mata uang Zimbabwe dengan logika sederhana: rakyat kecil enggak hidup memakai dollar AS, jadi mereka supposedly enggak perlu khawatir.
Kelihatannya masuk akal. Masalahnya, ekonomi modern bukan grup WhatsApp RT yang hidup terisolasi dari dunia luar.
Dari situ problemnya mulai kelihatan.
Orang Desa Memang Enggak Pegang Dollar. Namun, Harga Hidup Mereka Tetap Mengikuti Dollar.
Ini bagian yang sering sengaja disimplifikasi.
Rakyat desa mungkin enggak punya rekening dollar. Mereka enggak trading forex sambil ngopi di coworking space SCBD. Mereka bahkan mungkin enggak terlalu peduli kurs hari ini Rp17 ribu atau Rp18 ribu.
Namun, dari pupuk, solar, obat, pakan ternak, mesin pertanian, logistik, gandum, hingga kedelai all connected to global market. Which means yang pastinya pakai dollar.
Jadi, ketika sesepejabat bilang:
“Orang desa enggak pakai dollar.”
yang terdengar sebenarnya adalah:
“Masyarakat mungkin enggak paham mekanisme ekonomi, jadi mereka enggak akan sadar efeknya.”
Padahal efeknya datang pelan-pelan. Enggak dramatic di awal terus langsung chaos ala film kiamat.
Awalnya cuma harga pupuk naik. Lalu ongkos distribusi naik. Kemudian harga sembako ikut naik. Terus UMKM mulai naikin harga. Akhirnya daya beli turun. Akibatnya semua orang mulai mengurangi konsumsi. Yang berimbas bisnis ikut seret. And suddenly, everybody acts shocked.
Padahal trigger awalnya dari kurs yang dianggap “enggak relevan buat rakyat desa” tadi.
Zimbabwe Dulu Juga Mulainya Enggak Langsung Kiamat
Ini yang menarik dari sejarah kehancuran ekonomi. Negara jarang collapse secara cinematic.
Enggak ada alarm merah. Enggak ada soundtrack Hans Zimmer. Enggak ada tulisan “THE END IS NEAR”. Yang ada justru fase denial panjang.
Zimbabwe di bawah Robert Mugabe adalah contoh textbook soal itu.
Awalnya pemerintah melakukan reformasi tanah besar-besaran awal 2000-an. Secara politik, kebijakan itu dijual sebagai perjuangan melawan ketimpangan kolonial. Sounds heroic. Anti-imperialis. Revolutionary vibes banget.
Namun, implementasinya chaotic.
Produktivitas pertanian jatuh, investor kabur, ekspor turun, penerimaan negara ambruk. Dan karena negara tetap perlu membiayai pengeluaran, solusi yang dipilih adalah: cetak uang.
Yes. Literally printing money like there’s no tomorrow.
Hasilnya?
Hyperinflation.
Bukan inflasi biasa yang bikin orang ngeluh harga kopi naik dua ribu. Namun, hyperinflation level absurd sampai harga barang bisa berubah dalam hitungan jam. Hingga pada puncaknya, Zimbabwe mencetak uang pecahan 100 triliun dollar Zimbabwe. Dan itu bahkan enggak cukup buat beli kebutuhan sehari-hari.
It sounds like meme economics. But it's real.
Dan yang paling tragis: korban terbesarnya justru rakyat kecil yang supposedly “enggak terdampak dollar”. Karena ketika mata uang hancur, yang hancur bukan cuma angka kurs. Yang runtuh adalah trust.
Orang enggak percaya harga lagi. Enggak percaya bank. Enggak percaya tabungan. Enggak percaya pemerintah. Ekonomi akhirnya berubah jadi survival mode.
Indonesia Pernah Punya Trauma yang Mirip
Makanya agak fascinating ketika ada pejabat Indonesia yang terdengar casually dismissive terhadap pelemahan rupiah. Karena negara ini literally pernah dihancurkan oleh krisis kurs.
1998 bukan sekadar cerita sejarah buat bahan dokumenter reformasi. Itu collective trauma ekonomi nasional. Rupiah waktu itu jatuh dari sekitar Rp2.500 ke belasan ribu per dollar AS.
Dan efeknya brutal.
Perusahaan yang punya utang dollar langsung collapse. Bank-bank tumbang. Harga kebutuhan pokok meledak. PHK massal terjadi di mana-mana.
Dan lagi-lagi, rakyat kecil yang paling kena.
Ironically, sebagian besar rakyat waktu itu juga enggak “pakai dollar”.
Namun, mereka tetap kehilangan pekerjaan. Tetap antre sembako. Tetap kena inflasi. Tetap hidup di tengah social chaos.
Karena masalah kurs bukan soal siapa yang pegang lembaran dollar fisik di dompet. Masalah kurs adalah soal seberapa mahal hidup akan menjadi.
Dollar naik itu eventually bukan cuma urusan trader, investor, atau orang yang liburan ke Jepang. Ujungnya bisa jadi harga gorengan naik, ongkir naik, cicilan naik, sampai warung sebelah rumah mulai ngurangin isi minyak karena harga bahan baku makin enggak masuk akal.
“Fundamental Kita Kuat” Adalah Kalimat yang Selalu Muncul Menjelang Kepanikan
Ini juga interesting. Setiap ada tekanan ekonomi, selalu muncul template kalimat yang sama:
“Ekonomi kita kuat.”
“Fundamental bagus.”
“Situasi terkendali.”
“Jangan panik.”
Dan kadang memang benar.
Masalahnya, kalimat itu sering dipakai terlalu dini sebelum problem strukturalnya dibereskan.
Karena market enggak cuma membaca pidato optimistis. Market membaca data, kebijakan, defisit, utang, cadangan devisa, produktivitas, impor, political stability, dan trust.
Trust itu penting banget dalam ekonomi modern. Mata uang sebenarnya bukan sekadar kertas. Ia adalah collective belief system.
Begitu orang mulai enggak percaya, semuanya bisa unravel sangat cepat.
Dan sejarah menunjukkan, banyak rezim jatuh bukan ketika ekonomi sudah hancur total, tapi ketika publik mulai sadar pemerintah terdengar lebih sibuk menenangkan dibanding menyelesaikan.
Problem Terbesar dari Narasi “Rakyat Desa Enggak Pakai Dollar”
Problem utamanya bukan pada kalimat itu sendiri. Problemnya adalah mindset di belakangnya.
Karena narasi seperti ini implicitly menganggap ekonomi rakyat kecil itu sederhana. Seolah masyarakat desa hidup di vacuum terpisah dari rantai ekonomi global.
Padahal hari ini bahkan warung kecil di desa pun ikut terdampak harga distribusi nasional.
Petani beli pupuk yang harganya dipengaruhi pasar global. Nelayan beli solar yang sensitif terhadap geopolitik dunia. Pedagang sembako tergantung ongkos logistik. Pabrik tahu-tempe tergantung kedelai impor.
Semua saling connected.
Jadi, ketika kurs melemah, efeknya memang enggak selalu instant. Namun, eventually merembes ke mana-mana. Dan justru rakyat kecil biasanya paling lambat bisa melindungi diri.
Orang kaya bisa pindah aset. Bisa beli dollar. Bisa diversifikasi investasi.
Rakyat biasa?
Mereka cuma bisa melihat harga hidup naik pelan-pelan sambil berharap gaji enggak tertinggal terlalu jauh.
Sejarah Selalu Dimulai dari Kalimat yang Diremehkan
Mungkin rupiah enggak akan jadi Zimbabwe. Indonesia jelas punya struktur ekonomi yang jauh lebih besar dan kompleks.
Namun, sejarah ekonomi punya pola yang menarik:
Krisis besar hampir selalu diawali oleh elite yang terlalu santai terhadap warning signs. Dan publik biasanya baru sadar belakangan bahwa beberapa kalimat yang dulu terdengar receh ternyata adalah red flag.
“Tenang saja.”
“Enggak masalah.”
“Rakyat enggak terdampak.”
“Fundamental kuat.”
Kalimat-kalimat itu terdengar comforting. Sampai ketika harga hidup mulai berbicara lebih keras daripada pidato politik.

Comments
Post a Comment