Skip to main content

The Errors Tour: Ketika Presiden Indonesia Terlihat Lebih Sibuk Jadi Global Celebrity daripada Kepala Negara

 

Ada sesuatu yang extremely funny dari kenyataan bahwa Prabowo Subianto sekarang lebih sering muncul di airport luar negeri daripada di tengah problem domestik negaranya sendiri. And internet, as always, menangkap itu jauh lebih cepat daripada panel diskusi politik di TV.

“The Eras Tour ❌”
“The Errors Tour ✅✅✅”

Saya enggak tahu siapa pertama kali bikin jokes itu. But honestly? Peak Indonesian political satire.

Karena memang makin lama, timeline berita tentang Prabowo mulai terasa seperti jadwal konser dunia. Hari ini di Timur Tengah. Besok di Eropa. Minggu depan summit lagi. Habis itu bilateral meeting lagi. Lalu military expo lagi. Foto turun pesawat lagi. Salaman lagi. Gala dinner lagi. Jet lagi. Carpet merah lagi. 

Dan yang bikin semuanya makin absurd adalah: ini terjadi ketika pemerintah sendiri sibuk preaching soal efisiensi anggaran.

Efisiensi. Kata yang sekarang dipakai terus kayak corporate buzzword habis ikut leadership seminar.

Pejabat diminta hemat, kurangi seremoni, kurangi perjalanan dinas, prioritaskan anggaran. Meanwhile publik buka berita dan lihat presidennya lagi overseas. Again.

Lucunya, masalah terbesar dari semua ini sebenarnya bukan jumlah perjalanannya. Presiden memang harus diplomasi. Harus ketemu pemimpin negara lain. Harus hadir forum internasional. Nobody denies that. Masalahnya adalah vibes-nya.

Karena politik modern itu separuh kerja, separuh persepsi. Dan persepsi publik sekarang mulai bergeser dari “presiden aktif diplomasi” menjadi “kok kayak world tour terus ya?” Apalagi ketika kondisi domestik lagi enggak exactly comforting.

Harga kebutuhan naik pelan-pelan tapi konsisten. Daya beli melemah. PHK muncul di mana-mana. Orang mulai menghitung pengeluaran sampai level recehan. Literally recehan. Bahkan uang lima ratus rupiah sekarang kembali punya makna spiritual dalam transaksi gorengan.

Namun, di saat yang sama, elite politik Indonesia terlihat increasingly detached dari realitas sehari-hari rakyatnya sendiri. And nothing captures that disconnect more perfectly than satu momen simbolik ini: Idul Adha di Paris.

Negara lagi struggling dengan banyak urusan domestik, tapi presidennya justru salat Ied di salah satu kota paling romantis di dunia. You genuinely cannot script this better.

Secara diplomatik mungkin ada penjelasan. Pasti ada agenda kenegaraan. Pasti ada meeting penting. Pasti ada urusan strategis. Fine. Namun, politik bukan cuma soal penjelasan resmi. Politik itu visual. Politik itu simbol. Politik itu optics.

Dan optics-nya? Oh this was bad. Karena yang ditangkap publik sederhana saja: “Buset, Idul Adha aja masih di luar negeri?”

Apalagi ini bukan pertama kali Prabowo ke Prancis. Publik sudah terlalu sering melihat kombinasi: Prabowo dan Paris. Sampai rasanya hubungan bilateral Indonesia-Prancis sekarang punya screentime lebih banyak daripada hubungan pemerintah dengan rakyatnya yang dari kelas menengah domestik.

Dan internet Indonesia kalau sudah mencium kontradiksi biasanya kejamnya luar biasa. Karena semua perjalanan itu akhirnya mulai terasa bukan seperti diplomasi, tapi performance.

Kayak ada kebutuhan terus-menerus untuk terlihat global. Terlihat internasional. Terlihat sibuk. Terlihat penting di panggung dunia. Padahal meanwhile rakyat sendiri lagi sibuk bertahan hidup di panggung Indomaret.

Ini yang menarik dari politik era media sosial. Dulu pemimpin dianggap kuat kalau misterius dan jarang muncul. Sekarang beda. Sekarang semua harus jadi konten.

Turun pesawat jadi konten.
Salaman jadi konten.
Meeting jadi konten.
Naik tangga pesawat jadi konten.
Berenang jadi konten.

Presiden modern increasingly feels like influencer with nuclear codes.

Dan ironisnya, semakin sering semua itu dipamerkan, semakin besar juga kemungkinan publik merasa: “okay… but what exactly is happening back home?”

Karena orang Indonesia itu sebenarnya cukup toleran soal pemimpin keliling dunia. Namun, ada syarat enggak tertulisnya: kehidupan domestik minimal jangan terasa makin susah.

Kalau ekonomi lagi oke, orang mungkin akan lihat perjalanan luar negeri sebagai prestige negara. Namun, kalau rakyat lagi ngos-ngosan, semua foto bilateral berubah jadi meme template.

Makanya perbandingan dengan Taylor Swift kena banget. Karena Taylor Swift memang literally dibayar untuk keliling dunia dan tampil di depan publik. Sementara presiden seharusnya dibayar untuk memastikan rakyatnya enggak merasa ditinggal world tour pemerintahannya sendiri.

Jujuuuuur, semakin sering headline tentang Prabowo muncul dari luar negeri, semakin banyak orang mulai bertanya diam-diam:

Ini diplomasi… atau deluxe travel content?

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Strategi Teh Pucuk Harum Menggeser Teh Botol Sosro: Dari “Pucuk-pucuk” ke Puncak Pasar

Di dunia minuman teh dalam kemasan, satu nama pernah begitu sakral: Teh Botol Sosro . Tagline legendarisnya— “Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro” —menjadi mantra yang menggema di ruang makan, restoran, hingga warung-warung. Produk ini tak cuma minuman, tapi bagian dari budaya populer. Tapi cerita berubah. Menurut Top Brand Index fase 1 tahun 2022 , posisi puncak tak lagi dipegang Teh Botol Sosro, melainkan Teh Pucuk Harum , pemain yang terhitung baru tapi agresif dan taktis. Bagaimana bisa pemain yang baru diluncurkan pada tahun 2011 ini berhasil menggeser “raja” yang sudah bertakhta sejak 1970-an? Jawabannya adalah kombinasi cerdas antara diferensiasi, konsistensi branding, agresivitas pemasaran, serta kemampuan membaca perubahan perilaku pasar. Mari kita uraikan satu per satu. 1. Diferensiasi: Pucuk Daun, Pucuk Ingatan Teh Pucuk Harum tak datang dengan tangan kosong. Mereka datang dengan satu pesan sederhana tapi kuat: “Teh terbaik ada di pucuknya.” Kalimat ini bukan b...