Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2026

Negara Lagi Burnout, Tapi Solusinya: ‘Kekuatan Asing’ (Again, Literally Again)”

Honestly ya, at this point, kalau Presiden Prabowo bilang “kekuatan asing” sekali lagi, itu udah bukan narasi politik, itu catchphrase . Kayak: “Ulah kekuatan asing.” “Antek-antek asing.” “Bangsa-bangsa asing, kekuatan-kekuatan asing.” Which is… okay Pak, we get it. Tapi pertanyaannya: asing yang mana dan salah kita di mana? So basically, setiap kali ada problem, ekonomi nggak make sense, kritik makin rame, publik makin questioning, jawabannya selalu sama. Bukan evaluasi kebijakan. Bukan minta maaf. Tapi: “ini ulah kekuatan asing.” Red flag? Honestly, yes. Now plot thickens. Setelah berkali-kali Presiden ngomong soal “kekuatan asing yang mengusik kedaulatan”, tiba-tiba muncul naskah akademik RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing . Timing-nya? Suspicious banget. Kayak abis debat terus langsung bikin aturan biar debatnya nggak kejadian lagi. Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra, bilang ini memang atas permintaan Presiden. Tapi tenang, katanya Presiden c...

Rupiah Lagi Mental Breakdown, Negara Masih Sok “We’re Fine”

  Masuk 2026 harusnya hidup menjadi glow up. New year, new me, new money. Tapi rupiah literally bangun pagi terus bilang, “Bestie, I’m tired.” Tanggal 20 Januari 2026 , kurs nyentuh Rp16.988 per dolar AS . Rekor terlemah sepanjang sejarah. Not “salah satu yang terlemah”.  Yang paling lemah. Ever. Dan jangan mulai dengan, “Ini karena global” . Because plot twist-nya,  dolar AS lagi melemah secara global . So, kalau rupiah tetap jatuh? Yes bestie, this is a local issue . Sepanjang 2025, rupiah udah turun 3,5% dan jadi runner-up paling ambyar di Asia . Di situ harusnya negara udah pasang alarm. Tapi vibes-nya lebih ke, “Tenang, nanti juga stabil sendiri.” Problem-nya, negara belanja kayak lagi healing phase: impulsif, emosional, dan nggak ngecek rekening. Defisit anggaran 2025 tembus Rp697,1 triliun . Hampir 3% PDB . Terlebar dalam 20 tahun kalau pandemi kita skip. Pemasukan seret. Pajak nggak nyampe target. Tapi belanja? Gas terus. Program jumbo tetap masih jalan, sa...

Ketika Negara Ikut Masak di Dapur Orang

Ada satu jenis kebijakan yang tidak langsung membuat marah. Ia tidak meledak. Tidak ribut. Tidak provokatif. Ia hanya membuat orang terdiam sebentar, lalu bertanya pelan dalam hati: “Ini sebenarnya negara lagi ngapain?” Pengangkatan ribuan pegawai dapur MBG menjadi PPPK termasuk jenis itu. PPPK, sejauh yang dipahami publik, adalah pegawai pemerintah. Digaji oleh negara. Didesain untuk memperkuat layanan publik. Bekerja di institusi negara, atau setidaknya dalam fungsi yang jelas-jelas milik negara. Masalahnya, dapur MBG bukan milik negara. Ia bukan aset publik. Ia bukan kantor pemerintahan. Ia adalah dapur privat—entah milik perorangan, entah badan usaha. Dan di titik ini, logika mulai retak. Negara menggaji pegawai untuk bekerja di ruang yang bukan miliknya. Bukan sekadar kerja sama. Bukan sekadar subsidi. Tapi pengangkatan formal sebagai pegawai pemerintah. Kalau ini benar, maka negara sedang menciptakan satu preseden yang sunyi tapi berbahaya: APBN tidak lagi sekadar membiay...

JakLingko Masih “Reform”, Tapi Kenapa Sopirnya Makin Agresif?

  Kamu pasti pernah ngerasain ini tanpa perlu jadi analis transportasi. Naik JakLingko sekarang itu… a bit tense. Bukan selalu, tapi cukup sering untuk bikin kamu sadar: kok cara bawanya beda ya? Lebih ngebut, lebih maksa masuk celah, lebih “yaudah gas aja dulu”. Dan reaksi paling gampang biasanya: “dulu lebih enak.” Fine. Tapi kalau berhenti di situ, itu bukan analisis, itu nostalgia with better branding. Kalau mau jujur, perubahan ini bukan soal sopirnya tiba-tiba berubah karakter. Ini soal apa yang mereka kejar di jalan itu berubah bentuk . Waktu sistem JakLingko didorong di era Anies Baswedan , narasinya clean: hapus setoran, ganti jadi bayar per kilometer. Secara konsep, ini almost textbook policy fix. Kamu hilangkan insentif buruk, kamu akan dapat perilaku yang lebih baik. And for a while, it actually worked. Sopir nggak perlu lagi ngetem. Nggak perlu rebutan penumpang. Nggak perlu marah kalau cuma dapat satu orang. Jalan jadi terasa lebih smooth bukan karena orang-oran...

Hal-Hal yang Terlambat Kita Katakan

  Setiap generasi punya kebiasaan yang sama: menyalahkan generasi sebelumnya. Orang tua dianggap kaku, kolot, tidak mengerti dunia baru. Sementara yang lebih tua melihat anak-anaknya terlalu cepat menghakimi sesuatu yang belum mereka pahami. Di tengah tarik-menarik itu, hubungan ayah dan anak sering berubah jadi ruang negosiasi yang awkward. Banyak pikiran yang tidak pernah benar-benar diucapkan. Banyak percakapan yang berhenti di setengah kalimat. Kita bicara, tapi lebih sering dalam mode defensif, trying to prove a point, bukan trying to understand. Kadang kita merasa terjebak dalam nilai yang diwariskan orang tua. Kita membawa keyakinan mereka, harapan mereka, bahkan ketakutan mereka. Dan jujur saja, tidak semuanya kita setujui. Tapi sebagian tetap tinggal di kepala kita, whether we like it or not. Masalahnya bukan perbedaan itu. Perbedaan selalu ada. Problemnya adalah ketika dua generasi berhenti mencoba mendengar satu sama lain. Sering kali konflik antara masa lalu dan masa ki...

What If Harry Potter Never Left the Cupboard? Fan Theory yang Bikin Seluruh Saga Jadi Psychological Tragedy

  Ada satu fan theory tentang Harry Potter yang kalau kamu pikirkan terlalu lama… rasanya agak bikin merinding. Bukan karena ada monster baru. Bukan karena plot twist tentang Lord Voldemort . Tapi karena teorinya simpel banget. What if… Harry tidak pernah pergi ke Hogwarts? Jadi bayangin sebentar. Kita rewind ke awal cerita. Seorang anak yatim bernama Harry Potter tinggal di rumah keluarga Dursley family . Hidupnya di bawah tangga.  No friends, no affection, and no sense of belonging. Kalau kamu baca ulang bagian awal buku pertama, hidup Harry itu sebenarnya cukup disturbing. Ini bukan sekadar “keluarga galak.” Ini borderline emotional abuse yang terjadi setiap hari. Dan di sinilah teori itu masuk. Menurut teori yang sering disebut fans sebagai “Delusional Orphan Theory” , semua yang terjadi setelah itu, surat dari Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry , dunia sihir, petualangan, bahkan perang besar melawan Voldemort, bisa saja hanyalah mekanisme pertahanan mental. Beca...

Yang Paling Menyakiti Bukan Ketidakadilan, Tapi “Ngantuk”

Indonesia itu negara yang luar biasa sabar. Sabar melihat korupsi. Sabar melihat salah tangkap. Sabar melihat tanah dirampas. Sabar melihat laut dipagar. Sabar melihat hukum dipelintir kayak kabel charger murahan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ditoleransi . “Gibran ngantuk, ya?” Boom. Demokrasi langsung kejang-kejang. Lucunya, sebelum kalimat itu keluar, Panji sudah ngomongin segalanya. Dari pembunuhan, narkotika, politik balas budi, sampai kabinet gemuk yang kalau naik lift mungkin harus antre shift. Semua itu lewat. Sunyi. Damai. Netizen kalem kayak abis minum teh chamomile. Begitu satu kata ngantuk keluar, tiba-tiba: Timeline panas Kolom komentar berdarah Buzzer bangun lebih cepat dari azan Subuh Padahal yang disebut ngantuk itu cuma kondisi biologis. Bukan tuduhan makar. Bukan penggulingan negara. Bukan ancaman ideologi. Tapi entah kenapa, lebih menyakitkan daripada: Salah tangkap orang Perampasan tanah Ormas pegang tambang DPR tid...

Venezuela dan Pola Usang Invasi Amerika

Trump ini mainnya licik, tapi polanya udah basi. Dia nge-push narasi “War on Narco-Terrorism & Illegal Immigration” buat nge-justify serangan ke Venezuela dan nge-capture Maduro sebagai “dalang narkoterorisme versi US”. Padahal semua orang yang udah main map geopolitik lebih dari tutorial paham: US nggak pernah rush tanpa loot. Ini bukan first round. Mereka sudah pakai strat yang sama waktu nge-down Saddam Hussein dan Muammar Gaddafi . Dan sekarang, Venezuela lagi jadi bomb site utama . 🎯 OBJECTIVE 1: CLAIM OIL — LOOT TERBESAR DI SERVER Venezuela itu raja resource . Cadangan minyak terbukti terbesar di dunia , bahkan ngelampaui Arab Saudi. Ini bukan side quest. 📌 Kepentingan US: Amankan supply energi global Buka akses buat oil corp besar macam Chevron & ExxonMobil Masalahnya, sejak era Hugo Chávez , banyak aset asing di- nasionalisasi . Di era Maduro , bukan cuma di-lock — tapi di-ban permanen. Dengan Timur Tengah lagi chaos dan Ukraina jadi map pe...

Guy Ritchie's The Covenant

  Ada sesuatu yang ironis dalam menonton Guy Ritchie’s The Covenant (2023). Di satu sisi, film ini adalah kisah sederhana tentang utang budi dan keberanian seorang tentara yang menepati janji. Tapi di sisi lain, ia juga kisah kompleks tentang bagaimana kemanusiaan sering kali menjadi aksesori dalam perang yang katanya demi “membawa demokrasi.” Film ini mengikuti perjalanan John Kinley (Jake Gyllenhaal), sersan pasukan khusus Amerika Serikat yang bertugas di Afghanistan. Setelah kehilangan penerjemahnya dalam ledakan, ia merekrut Ahmed (Dar Salim), seorang warga Afghan yang tak hanya pandai berbahasa Inggris, tapi juga punya naluri hidup yang luar biasa. Dalam perang, Ahmed bukan hanya penerjemah, tapi juga penuntun — menyelamatkan John berkali-kali dari maut. Namun setelah pertempuran yang menewaskan seluruh tim, hanya mereka berdua yang tersisa. John diselamatkan dan dipulangkan, sementara Ahmed — pria yang menyelamatkannya — ditinggalkan di tanah kelahirannya, diburu oleh kelomp...

Indonesia Darurat Hukum: Saat Negara Menemukan Cara Legal untuk Menyandera Warganya

Ada satu kebohongan yang paling rajin diulang oleh negara: bahwa hukum selalu diciptakan untuk melindungi warga. Padahal, seperti pisau dapur, hukum tak pernah netral. Ia bisa memotong bawang, bisa juga menusuk perut, tergantung siapa yang memegang gagangnya. Dan belakangan ini, gagang itu terasa makin erat di tangan negara, sementara mata pisaunya menghadap ke rakyat. Usman Hamid menyebutnya tanpa basa-basi: Indonesia Darurat Hukum . Bukan darurat karena hukum tidak ada, tapi justru karena hukum terlalu ada , terlalu siap dipakai, terlalu lentur ditafsirkan, terlalu mudah dijadikan senjata. KUHP dan KUHAP baru kini resmi berlaku. Secara simbolik, kita diminta bertepuk tangan: kolonialisme hukum Belanda akhirnya ditinggalkan. Secara retoris, negara ingin kita percaya bahwa ini adalah momen kedaulatan. Tapi sejarah sering mengajarkan satu hal pahit: tidak semua yang berlabel “nasional” otomatis berpihak pada rakyat. Masalahnya bukan pada keberanian mengganti hukum lama. Masalahnya ...