Honestly ya, at this point, kalau Presiden Prabowo bilang “kekuatan asing” sekali lagi, itu udah bukan narasi politik, itu catchphrase . Kayak: “Ulah kekuatan asing.” “Antek-antek asing.” “Bangsa-bangsa asing, kekuatan-kekuatan asing.” Which is… okay Pak, we get it. Tapi pertanyaannya: asing yang mana dan salah kita di mana? So basically, setiap kali ada problem, ekonomi nggak make sense, kritik makin rame, publik makin questioning, jawabannya selalu sama. Bukan evaluasi kebijakan. Bukan minta maaf. Tapi: “ini ulah kekuatan asing.” Red flag? Honestly, yes. Now plot thickens. Setelah berkali-kali Presiden ngomong soal “kekuatan asing yang mengusik kedaulatan”, tiba-tiba muncul naskah akademik RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing . Timing-nya? Suspicious banget. Kayak abis debat terus langsung bikin aturan biar debatnya nggak kejadian lagi. Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra, bilang ini memang atas permintaan Presiden. Tapi tenang, katanya Presiden c...