Skip to main content

Posts

Netralitas yang Mulai Blur: Ketika Indonesia Terjebak di Forum yang Salah

  Narasi “peran aktif Indonesia dalam perdamaian dunia” adalah sebuah narasi lama yang nyaman, tapi makin sulit dipertahankan tanpa terlihat… selective. Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon Selatan. Bukan dalam konteks perang terbuka Indonesia, tapi saat menjalankan mandat perdamaian. Secara teknis, ini bagian dari kontribusi global. Secara politis, ini mulai terasa seperti posisi yang ambigu, bahkan kontradiktif. Indonesia selama ini cukup konsisten: pro-Palestina, anti-agresi, dan selalu positioning diri sebagai negara yang berdiri di sisi hukum internasional. Namun, sekarang muncul satu pertanyaan yang uncomfortable, kalau dua aktor utama dalam Board of Peace justru adalah pihak yang dianggap agresor oleh sebagian besar publik Indonesia, sebenarnya Indonesia sedang duduk di meja yang mana? Ini bukan soal moral outrage semata. Ini soal coherence. Karena begini, kamu tidak bisa secara konsisten mengecam tindakan militer Israel di satu forum, lalu di saat yang sama tetap berada ...

Pokoknya Ada: Dulu Disamarkan, Sekarang Terlihat

Kalimat “pokoknya ada” itu bukan sekadar slip of the tongue. Itu problem komunikasi yang kelihatan banget di era sekarang, karena standar publik sudah naik, tapi cara jawabnya masih pakai pola lama. Waktu Teddy Indra Wijaya ditanya soal sumber anggaran, publik sebenarnya enggak minta hal yang aneh. Pertanyaannya straight forward: duitnya dari mana? Ini bukan pertanyaan filosofis, ini pertanyaan teknis. Jadi ekspektasinya juga simpel: kasih informational clarity . Yang terjadi malah sebaliknya. Jawaban yang keluar terasa seperti message avoidance , secara teknis menjawab, tapi secara substansi enggak address core question. Di sinilah publik langsung nangkep: ini bukan lack of information aja, tapi ada gap di cara framing jawabannya. Kalau ditarik ke belakang, pola kayak gini sebenarnya bukan hal baru. Di era Soeharto, komunikasi pejabat memang heavily structured. Figur seperti Moerdiono adalah contoh textbook dari high-context political communication . Semua kalimatnya clean, formal, da...

Negara vs Videografer: Ketika Ide Dihargai Nol, dan Logika Ikut Hilang

  So here's the thing, seorang videografer, Amsal Sitepu , didakwa korupsi karena dianggap nge-markup proyek video profil desa di Sumatera Utara. Angkanya? Rp30 juta per video. Totalnya 13 video. Semua disepakati di awal, dikerjakan, direvisi, diserahkan, dibayar. Clean. Done. Terus negara datang, lihat itu, dan bilang: “ini markup!”  And suddenly, we pretend this is corruption. Masalahnya bukan cuma di angka. Masalahnya ada di cara berpikir yang, frankly, feels outdated and borderline ignorant. Di persidangan, jaksa dan auditor menyimpulkan bahwa proses kreatif berupa pencarian ide, pengembangan konsep, sampai editing itu nilainya Rp0 di RAB. Literally dianggap enggak ada. Sebentar... Kalau kamu pernah kerja di industri kreatif kamu pasti tau ini bukan cuma salah, tapi insulting. Ini bukan sekadar beda persepsi harga. Ini denial terhadap eksistensi kerja kreatif itu sendiri. Ide itu bukan bonus. Konsep itu bukan dekorasi. Editing itu bukan tombol “export” doang. Dan negara, l...

PJJ Buat Hemat BBM?

Pemerintah mau hemat BBM dengan cara mengurangi mobilitas siswa lewat PJJ mulai April. Kedengarannya logis. The problem is, logika ini berhenti di permukaan. Konsumsi BBM terbesar di Indonesia itu bukan dari orang tua yang nganter anak sekolah. Itu datang dari sektor logistik, distribusi barang, industri, dan transportasi komersial. Truk-truk besar, rantai pasok, aktivitas ekonomi skala besar. Jadi ketika kebijakan penghematan energi justru menyasar siswa, ini already feels off target. Ini bukan soal mobilitas ke sekolah nol dampak. Tapi kontribusinya kecil dibanding sektor lain. Jadi kalau tujuan utamanya adalah saving BBM secara signifikan, PJJ bukan lever yang paling impactful. Ini lebih ke kebijakan yang “kelihatan kerja”, bukan yang benar-benar kerja. Pemerintah bilang skemanya nanti fleksibel. Enggak akan seketat pandemi. Praktikum tetap tatap muka. Ada penyesuaian. Fine. Namun, ini justru bikin satu hal jadi makin jelas: kebijakan ini setengah-setengah. Kalau memang mau mene...

Ucapan Maaf yang Semu di Hari yang Fitri

  Setiap Lebaran ada satu ritual yang selalu muncul: saling meminta maaf. Kalimatnya juga hampir selalu sama. “Mohon maaf lahir dan batin.” Diucapkan saat sungkeman, saat salaman setelah salat Ied, di grup WhatsApp keluarga, bahkan di broadcast message yang jelas-jelas copy–paste. The phrase travels everywhere. From living rooms to timelines. Masalahnya bukan di kalimatnya. Masalahnya di maknanya. Karena kalau kita jujur sedikit saja, sebagian besar ucapan maaf saat Lebaran itu tidak pernah benar-benar menyentuh masalah yang sebenarnya ada di antara orang-orang yang saling mengucapkannya. It’s more like a social script. Semacam template tahunan yang harus dijalankan supaya suasana Lebaran terasa lengkap. Kalau tidak ada sesi saling memaafkan, rasanya ada yang kurang. Tidak afdhol. Jadi ritual itu tetap dijalankan. Orang salaman. Orang sungkeman. Orang mengucapkan maaf. Lalu selesai. The problem is: konflik yang ada sebelumnya tidak ikut selesai. Orang yang sebelumnya salin...

Lebaran, Opor, dan Negara yang Tidak Pernah Sepakat Soal Besok

  Setiap tahun kita akan disuguhi drama ini. Padahal ini bukan kejadian langka, ini annual episode yang literally bisa dijadwalkan. Bedanya cuma tanggalnya doang, konfliknya sama: “jadi besok lebaran nggak?” Di satu sisi ada Muhammadiyah, very confident, very calculated, vibes-nya kayak orang yang sudah booking tiket dari 3 bulan lalu. Hisab, angka, data, selesai. Mereka sudah sampai tahap, “see you di 1 Syawal hari Jumat ya guys,” sementara yang lain masih, “hmm kita lihat nanti.” Di sisi lain ada Pemerintah dan NU, yang approach-nya lebih… situasional. Rukyat, observasi, nunggu hilal muncul kayak nunggu chat dibalas. Bisa cepat, bisa lama, bisa juga nggak muncul sama sekali. Jadi ya, keputusan diambil last minute lewat sidang isbat yang somehow selalu terasa kayak season finale. Dan di antara dua kubu yang very intellectually sound ini, ada kelompok yang paling tidak siap secara emosional: ibu-ibu yang pegang santan. Ini serius. Karena semua teori falak runtuh di depan satu perta...

Video “Lempar Cadar” di Masjid Itu: Feels Powerful, Tapi Datanya… Kosong

  Beredar di media sosial, video tentang jamaah perempuan di Masjid Fatih yang melemparkan cadar ke arah jamaah laki-laki di bawahnya. Narasinya langsung intense: ini bentuk protes karena Masjid Al-Aqsa “ditutup”, lalu dibungkus dengan pesan yang quite aggressive, soal kehormatan laki-laki, tanggung jawab, dan semacam moral pressure yang hard to ignore. At first glance, it works. Dramatic, symbolic, emotionally loaded. Very shareable. Namun, begitu dicoba dipikir sedikit, baru mulai terasa ada yang off. Karena anehnya, tidak ada satu pun media kredibel yang cover. No Turkish media, no international coverage, nothing. Padahal ini bukan kejadian kecil. Ini masjid besar, public space, Ramadan, dan aksinya cukup confrontational. Kalau ini real, it should be everywhere. Tapi kenyataannya? Cuma muter di sosmed, dari satu akun ke akun lain, dengan caption yang… suspiciously mirip semua. It’s giving template, bukan reporting. Terus videonya sendiri juga agak too perfect. Aksinya kol...