Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2025

Sawit, Hutan, dan Janji: Ketika Pucuk Pimpinan Mengibas Pedang di Atas Tulang Bumi

  Saat ini, di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan di banyak penjuru Nusantara, alam kita menangis. Sungai yang dulu gemercik tenang kini bergulung deras membawa lumpur; kampung pinggir hulu menjadi korban longsor; hujan lebat sekali, tetapi air tak lagi tertahan, meluncur deras ke hilir, memporak-porandakan rumah, sawah, dan kehidupan. Kita menyaksikan bencana bukan sebagai “musibah alam semata”, melainkan sebagai jejak kesalahan kita: menggunduli hutan, mengganti pohon rindang dengan barisan sawit rapi, dan membungkusnya dengan jargon “kemajuan”, “ekonomi”, “strategis”. Dalam pusaran itu, terdengar suara sang pemimpin: “Enggak usah takut deforestasi, kita tambah saja lahan sawit.”  Suara itu tidak hanya membenturkan akal sehat, ia menginjak mimpi jutaan rakyat yang menggantungkan hidup pada keseimbangan alam, sungai, hutan sebagai penyangga kehidupan. Dalam esai ini, saya ingin membongkar klaim tersebut, dengan kata keras, dengan fakta ilmiah, sekaligus mengecam l...

Tentang Maag, Angin Duduk, dan Kantor yang Tetap Berjalan Tanpa Kita

  Kalau lagi kumpul dengan orang-orang yang bekerja di penyiaran atau agency, atau yang pernah merasakan jungkir-baliknya dunia itu, topik yang entah kenapa sering muncul adalah soal penyakit apa yang pernah mampir ke tubuh kami. Ada yang cerita maag, tifus, bahkan ada yang mengisahkan temannya sampai kena stroke gara-gara ritme kerja yang absurd. Saya sendiri, di awal-awal kerja, sempat mengalami sakit maag parah. Perut saya mau diisi atau tidak, rasanya tetap sakit, mual, dan seperti mau muntah. Sampai akhirnya, saat training di TVRI, salah satu instruktur memberi saran sederhana: makan telur asin sebelum makan berat. Aneh memang, tapi ternyata berhasil. Sejak itu, maag yang dulu setia menemani, menghilang tak pernah kembali. Untuk penyakit seperti tifus atau stroke, alhamdulillah saya belum pernah mengalaminya. Yang lucu, justru istri saya, yang bekerja di Bank dan jadwalnya lebih manusiawi, malah kena tifus. Kadang saya berpikir, jangan-jangan pekerjaan dia sebenarnya lebih ...

Tumbler Hilang, Hutan Hilang, dan Skala Kepedulian yang Aneh

Satu tumbler hilang di kereta. Pemiliknya, Anita, mengunggah kronologi. Dalam hitungan jam, netizen menjadikannya musuh publik. Katanya lebay. Katanya menyusahkan petugas KAI. Katanya hampir membuat orang kehilangan pekerjaan. Negara kecil bernama Media Sosial langsung menggelar sidang darurat: cepat, riuh, dan tanpa minat pada proporsi. Di sisi lain, hutan-hutan di Sumatera hilang bertahun-tahun. Banjir bandang datang, membawa kayu-kayu yang jelas tidak tumbuh semalam. Rumah hanyut, nyawa hilang, dan puluhan ribu orang terdampak. Respons publik? Sopan. Tenang. Rapi. Seolah bencana ekologis hanyalah repetisi yang tidak perlu dibahas panjang. Kita tidak kekurangan empati; kita hanya lebih tertarik pada kasus yang menyediakan tokoh untuk diserang. Anita punya nama dan wajah. Deforestasi punya izin, korporasi, dan jaringan kepentingan, terlalu panjang untuk di-quote tweet. Pada akhirnya, tumbler dan hutan sama-sama hilang. Yang membedakan hanyalah apa yang sanggup dicerna imaj...

Tumbler Hilang — Ketika Barang Bukan Sekadar Barang

  Bayangkan ini, sebuah botol minum atau tumbler. Benda remeh: bisa terbuat dari stainless steel, plastik, atau kaca, biasanya berisi air mineral atau minuman lain. Benda sederhana, utilitarian. Tapi di era konsumsi-viral dan penampilan-digital, benda semacam ini bisa melambung menjadi bagaimana kata netizen? Bisa menjadi simbol identitas, bahkan status moral. Begitulah kisah yang dipantik oleh unggahan seorang penumpang KRL bernama Anita: dia kehilangan tumbler merek “Tuku” (dan cooler bag) di kereta, lalu ia curhat di media sosial. Apa yang terjadi kemudian membesar, hingga menimbulkan pro-kontra, polemik, tuduhan, dan rumor “pemecatan”. Perlu kita sikapi serius: ini bukan sekadar soal tumbler hilang. Ini soal bagaimana konsumerisme, moral publik, dan cancel culture mengkristal dalam satu flash, dan melukai manusia di kedua sisi: konsumen dan pekerja. Kronologi: Dari Cooler Bag Tertinggal Hingga Petugas Dikaitkan Peristiwa bermula pada 24 November 2025 , ketika Anita naik KRL Com...

“Sah!” untuk Menguping — Kalau Negara Mau Jadi Mata, Tapi Siapa yang Jadi Hati Nurani?

  “Kenapa sih negara sampai repot-repot buat ngetok pintu, terus nyadap handphone kita — tanpa selembar izin publik?” Pertanyaan sederhana — tapi mengguncang prinsip dasar kebebasan: apakah kita masih hidup di dunia nyata, atau kita sudah jadi aktor tanpa sadar di panggung besar pengawasan massal? Baru-baru ini, DPR melalui inisiatif Badan Legislasi DPR RI (Baleg) mendapuk RUU Penyadapan sebagai bagian dari prioritas legislatif 2026. Artinya: regulasi untuk “nguping secara resmi” akan disusun, di satu payung hukum khusus — terpisah dari hukum acara biasa.  Mengapa tiba-tiba ini jadi “prioritas”? Karena menurut DPR, penyadapan sekarang dianggap terfragmentasi: tersebar di berbagai regulasi, institusi hukum dan intelijen, tanpa satu kerangka hukum nasional yang tegas. RUU ini diklaim sebagai jawaban: agar semua urusan intersepsi telekomunikasi/perlindungan komunikasi punya payung yang jelas dan seragam. Tapi — kenapa harus “diprioritaskan” sampai empat RUU lain dicance...

Cuaca Ekstrem dan “Luka Ekologis” Indonesia

  Ada satu hal yang terus berulang dalam sejarah manusia: kita tidak pernah percaya bahwa bencana itu nyata—hingga ia berdiri di depan pintu, mengetuk dengan kasar, lalu menerjang masuk tanpa permisi. Setiap kali banjir merendam kota, setiap kali tanah longsor menyapu pemukiman, setiap kali asap kebakaran hutan mengubah langit menjadi neraka jingga, kita heboh, kita marah, kita saling tuduh. Kita menyalahkan cuaca, menyalahkan curah hujan, menyalahkan “fenomena alam.” Seolah-olah alam tiba-tiba berubah menjadi antagonis dalam sebuah film bencana, padahal manusialah yang sudah menulis naskahnya sejak lama. Yang memalukan adalah: kita tahu akar masalahnya. Dan kita memilih untuk mengabaikannya—karena membenahinya tidak menghasilkan dividen secepat membangun gedung kaca baru di atas kawasan resapan. Di negeri ini, peta rawan bencana bukan dijadikan lampu merah, tetapi brosur investasi. Dua puluh tahun lalu, masih ada pepohonan di banyak bukit kota kita. Masih ada ruang bagi air untuk...

Enam Kata, Sepasang Sepatu, dan Dunia yang Membiarkan Anak-Anak Mati Sebelum Belajar Berjalan

Konon, Ernest Hemingway pernah menerima tantangan konyol: menulislah sebuah cerita utuh hanya dalam enam kata. Tantangan yang terdengar seperti hiburan bar—sebelum akhirnya menghasilkan salah satu kalimat paling memukul dalam sejarah sastra: “For sale: baby shoes, never worn.” Sebuah iklan baris. Tidak ada tokoh, tidak ada nama, tidak ada air mata yang dipaparkan secara eksplisit. Hemingway tidak menjelaskan apa pun; ia hanya meninggalkan lubang menganga yang harus diisi oleh imajinasi pembaca. Dan ironinya—lubang itu justru hadir lebih gelap dari novel tebal mana pun. Enam kata itu berhasil karena satu hal: ia tidak berusaha menyedihkan; ia cuma jujur tentang absennya kehidupan , dan kita yang mengisi sisanya. Namun, yang membuat cerita itu terasa semakin pahit adalah ketika kita melihat dunia hari ini, dan menyadari bahwa Hemingway sedang menulis tragedi dari sebuah keluarga—sementara di tempat lain, tragedi serupa menjadi produksi massal. Bukan lagi satu pasang sepatu yang tak s...

Sebuah Undang-Undang yang Melupakan Rakyat

  (Catatan dari Berlin, 1933) Di Berlin awal tahun 1933, udara sedang penuh euforia dan kecemasan yang saling menampar. Di satu sisi, terdapat harapan bahwa negeri ini akan bangkit dari keterpurukannya. Di sisi lain, terdapat ketakutan samar bahwa kebangkitan itu sedang dibangun di atas leher rakyat sendiri. Namun apa gunanya rasa cemas jika suara rakyat tak pernah dihitung sebagai variabel dalam rumus kekuasaan? Di depan gerbang Humboldt-Universität zu Berlin, mahasiswa-mahasiswa berkumpul. Mereka mengangkat poster yang dicetak tergesa. Mereka meyakinkan diri bahwa teriakan bisa mengubah sejarah. Mereka menolak sebuah undang-undang yang sedang dipaksakan untuk disahkan oleh parlemen. Tetapi seperti semua yang pernah mempelajari politik akan tahu: hukum tidak lahir dari teriakan moral; hukum lahir dari mereka yang memegang kursi, pena, dan kekuasaan. Parlemen tetap mengetok palu. Selesai sudah. Undang-undang itu kini sah. Dan rakyat baru menyadari bahwa setiap ketukan palu bisa...

Apple dan Bahasa Para Bangsawan Teknologi

Ada perusahaan yang tidak pernah nyaman hidup dalam istilah generik bernama “komputer”, “handphone”, atau “laptop”. Perusahaan itu menolak disamakan dengan apa pun yang terdengar terlalu merakyat. Mereka memberi nama sendiri, membuat dunia sendiri, dan memastikan setiap produknya berjalan dengan paspor khusus yang tidak pernah dicap di imigrasi pasar umum. Kita mengenalnya sebagai Apple, perusahaan yang mempopulerkan gagasan bahwa barang bukan lagi sekadar barang, tetapi identitas: identitas yang dikemas, dipoles, dan dilabeli hingga tampak lebih tinggi dari fungsinya. iPhone bukan handphone. iMac bukan komputer. MacBook bahkan menolak disebut laptop, seolah “laptop” itu semacam kursi plastik hajatan yang terlalu dekat dengan gravitasi kehidupan nyata. Di tangan Apple, bahasa menjadi tembok kaca yang membagi dunia antara mereka yang memegang perangkat premium dan mereka yang menggunakan istilah generik. Bahasa menjadi pagar elegan yang tak kelihatan, tapi cukup tebal untuk membeda...

Catatan Sore

Tadi pagi, seorang rekan kerja membawa kabar gembira. Istrinya positif hamil, anak kedua sedang dalam perjalanan. Satu ruangan ikut senang, doa pun mengalir dengan tulus. Tak ada yang lebih membahagiakan selain bertambahnya kehidupan dalam keluarga. Saat kami duduk di meja kopi langganan, di sela kepulan uap dan obrolan ringan, saya sempat berpesan padanya: perbanyak peluk anakmu selagi mereka masih kecil . Saya ceritakan sedikit tentang masa lalu saya sendiri, tentang anak-anak yang dulu selalu berlari menyambut saya pulang kerja, seperti dua malaikat kecil yang mampu menyapu pergi semua penat dari kantor, kemacetan panjang, atau masalah yang tak pernah benar-benar selesai. Begitu pintu rumah terbuka dan tubuh mungil itu memeluk kaki saya, seolah dunia ikut kembali baik-baik saja. Sayangnya, masa itu kini tinggal kenangan. Anak-anak saya telah tumbuh besar. Tangan mereka tak lagi otomatis meraih tubuh saya begitu saya pulang. Pelukan kini menjadi barang langka; sesuatu yang hanya t...

Jangan Biarkan Vitaminmu Jadi Urine Mahal: Sebuah Kisah Tragikomedi Harian

  Ada satu kenyataan pahit dalam hidup: sebagian besar dari kita rajin beli vitamin seperti mau membuka apotek mini, tapi cara minumnya… seperti lagi main tebak-tebakan. Ada yang minum Vitamin A pakai air putih jam 11 malam, ada yang nelen Zat Besi bareng es kopi susu, ada juga yang percaya bahwa semua suplemen, kalau ditelan sekaligus, pasti lebih ampuh, semacam “paket hemat”. Lalu besok paginya, saat kita buang air kecil… warnanya kuning keemasan. Indah, mewah, berkilau, dan itu artinya: Selamat, Anda baru saja menghasilkan air pipis termahal sedunia. Kenapa bisa begitu? Karena tubuh manusia itu bukan jasa titip dari Shopee. Ia bekerja pakai jam biologis, bukan pakai keinginan random kita. Ada vitamin yang cuma bisa masuk kalau ada lemak, ada yang hanya bisa diserap saat perut kosong, ada yang malah musuhan kalau diminum bersamaan. Singkatnya: vitamin itu drama queen. Banyak aturan mainnya. Kurang lebih seperti sebuah film sehari-hari di tubuh Anda. Episode Pagi: Para Vitamin y...

Bolehkah Kita Memecat Anggota DPR? Atau Kita Cuma Figuran di Drama Demokrasi?

  Dulu kita datang ke TPS, mencoblos foto orang yang bahkan tidak kita kenal secara personal. Kita beri mandat, beri amplop suara, beri legitimasi. Lalu beberapa bulan kemudian, orang yang kita pilih itu duduk di ruang rapat, walau tidak selalu duduk dengan kesadaran penuh, dan hidup berlanjut seperti tidak pernah ada proses memilih. Tapi muncul pertanyaan simpel yang selama ini seperti tabu diucapkan: kalau kita yang memilih, kenapa bukan kita yang boleh memecat? Lima mahasiswa, yang mungkin masih harus minum kopi sachet karena belum dapat beasiswa, tiba-tiba mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat sederhana namun selama ini kita lupakan: kedaulatan itu seharusnya milik rakyat, bukan milik partai. Mereka menggugat Pasal 239 ayat (2) huruf d UU MD3. Bukan karena mereka iseng, tapi karena mereka melihat satu fakta getir: kalau ada anggota DPR yang diprotes rakyat karena sudah kehilangan legitimasi, partai bisa melindungi dia seperti bendungan melindungi sawah. Tapi kalau partai i...