Saat ini, di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan di banyak penjuru Nusantara, alam kita menangis. Sungai yang dulu gemercik tenang kini bergulung deras membawa lumpur; kampung pinggir hulu menjadi korban longsor; hujan lebat sekali, tetapi air tak lagi tertahan, meluncur deras ke hilir, memporak-porandakan rumah, sawah, dan kehidupan. Kita menyaksikan bencana bukan sebagai “musibah alam semata”, melainkan sebagai jejak kesalahan kita: menggunduli hutan, mengganti pohon rindang dengan barisan sawit rapi, dan membungkusnya dengan jargon “kemajuan”, “ekonomi”, “strategis”. Dalam pusaran itu, terdengar suara sang pemimpin: “Enggak usah takut deforestasi, kita tambah saja lahan sawit.” Suara itu tidak hanya membenturkan akal sehat, ia menginjak mimpi jutaan rakyat yang menggantungkan hidup pada keseimbangan alam, sungai, hutan sebagai penyangga kehidupan. Dalam esai ini, saya ingin membongkar klaim tersebut, dengan kata keras, dengan fakta ilmiah, sekaligus mengecam l...