Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2025

Utsman Batur: The Last Roar of the Mountains

  There are men who are born for peace, and there are those who are born for the storm. Utsman Batur was the latter. Darahnya bukan tinta, tapi bara. Ia lahir bukan untuk menulis sejarah, tetapi untuk membakarnya. Di tanah tinggi Turkistan Timur, di antara salju yang tak pernah benar-benar padam, seorang anak Kazakh tumbuh dengan mata menatap puncak gunung yang seolah berbicara padanya: “Jika langit menindasmu, panjatlah, dan perangi dari atas.” I. The Silent Beginning Awalnya, dunia tidak mengenal namanya. Sebab dunia sibuk dengan dua raksasa: Rusia di barat, Cina di timur. Dua negeri yang merasa mereka adalah langit itu sendiri, satu dengan palu merah, satu dengan naga emas. Namun di antara mereka, ada sebidang tanah yang disebut Turkistan Timur , di mana angin membawa azan dengan nada yang menggigilkan udara. Itulah tanah tempat seorang anak penggembala bernama Utsman menatap bintang dengan cara yang berbeda. Bagi sebagian orang, bintang hanyalah cahaya jauh di langit; ba...

Negara Serius yang Diperintah dengan Gaya Acara Hobi

  Satir dan sarkasme sebetulnya lahir dari rahim yang sama: kekecewaan terhadap kebodohan yang dilembagakan. Bedanya, satir memilih menulis elegi, sementara sarkasme memilih melempar batu. Tapi di negeri yang pejabatnya bisa memancing di tengah krisis, garis batas itu semakin kabur, karena realita sendiri sudah lebih lucu dari sindiran manapun. Lihatlah Gibran Rakabuming. Wakil presiden termuda yang prestasinya, sejauh ini, paling “rakyat banget”: membagikan Minyakita, Beras, dan Gula; menghadiri acara Mancing Mania ; lalu entah apa lagi setelahnya, mungkin lomba layangan atau festival burung berkicau. Semua kegiatan itu tentu tampak sederhana, merakyat, dan penuh senyum kamera. Tapi ketika jabatan setinggi itu hanya menghasilkan foto-foto PR yang bisa dilakukan panitia tingkat RT, sulit untuk tidak melihatnya sebagai simbol betapa seriusnya negeri ini bermain-main. Satir akan memuji dengan lembut: “Akhirnya kita punya wakil presiden yang benar-benar memahami ekonomi pangan, mulai...

Lari dari Diri Sendiri: Ketika CFD Jadi Catwalk Spiritual

Di jalan protokol Jakarta, Minggu pagi berubah jadi ritual paling sakral abad ini: Car Free Day.  Bukan lagi soal olahraga, tapi semacam festival keagamaan baru, di mana kamera jadi nabi, dan “vibe estetik” jadi kitab sucinya. Orang-orang berlari bukan untuk menyehatkan jantung, tapi untuk memastikan wajah mereka terekam dengan pencahayaan yang tepat, kontras yang pas, dan latar belakang yang instagramable. Mereka menyebutnya “lari pagi”. Tapi kalau diperhatikan, langkahnya lebih sering berhenti di depan lensa ponsel daripada melaju di aspal. Maka lahirlah spesies baru urban: pelari kalcer. Mereka bukan pelari jarak jauh, tapi pelari jarak sorotan. Peluhnya bukan hasil perjuangan, tapi efek cahaya. Dan tujuan akhirnya bukan garis finish, melainkan feed aesthetic consistency. Ketika Tubuh Jadi Aset Visual Yang menarik, atau ironis, dari ritual ini bukan hanya narsisme massal yang menyaru sebagai gaya hidup sehat, tapi bagaimana tubuh manusia kini beralih fungsi: dari makhluk...

Sumpah yang Masih Harus Diulang

  Hampir satu abad Sumpah Pemuda dikumandangkan, dan kita masih sibuk membuktikan bahwa “pemuda” masih punya suara. Ironisnya, kini yang bersumpah bukan lagi para pemuda, tapi aparat dan pejabat yang bersumpah akan “menjaga ketertiban”. Terjemahannya sederhana: tolong jangan ribut kalau lapar, jangan protes kalau dijajah dalam negeri sendiri, dan jangan ikut demo kalau belum punya jabatan. Dalam aksi demonstrasi akhir Agustus hingga awal September lalu, 3.195 orang ditangkap. Bukan karena mereka merampok, bukan pula karena membakar gedung, tapi karena mereka bersuara, sesuatu yang konon dijamin konstitusi. Kalau dulu pemuda bersumpah “bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu”, kini mereka harus menambah satu lagi: “berani bicara, siap ditangkap.” Tak lama setelah itu, Mendikdasmen mengeluarkan surat edaran agar pelajar tak ikut demo. Bahasanya manis: demi menjaga keamanan dan ketertiban. Tapi, seperti semua surat resmi yang diketik dengan nada paternalistik, ia be...

Negara, Kamera, dan Paranoia Data Pribadi

  Ada masa ketika difoto di pinggir jalan hanyalah urusan lensa dan cahaya. Sekarang, urusannya bisa berubah jadi delik hukum . Begini ceritanya: Beberapa fotografer jalanan, yang biasa disebut “pengamen kamera” oleh netizen kalcer, tengah memotret orang-orang di trotoar kota. Sementara itu, di seberang layar, muncul aplikasi baru bernama FotoYu , yang menjanjikan “ekosistem digital bagi fotografer dan model dadakan”. Semua terdengar indah sampai kita tahu bahwa untuk bergabung, pengguna harus menyerahkan nama, nomor ponsel, lokasi, dan tentu saja: wajah mereka. Aplikasi ini katanya berbasis AI, tapi aromanya lebih mirip AI-portunis : mengoleksi wajah rakyat dengan iming-iming estetika. Dan seperti biasa, pemerintah masuk belakangan, bukan untuk menertibkan aplikasinya, tapi untuk menakuti para fotografer pinggir jalan. Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan: fotografer bisa kena UU Perlindungan Data Pribadi . Ancaman maksimalnya? Empat hingga lima tahun penjara. Lucu, ya...

Bancakan di Tanah Suci

  Setiap tahun, jutaan umat Islam menabung belasan tahun demi satu cita-cita spiritual: pergi ke Tanah Suci. Tapi di balik lantunan doa dan air mata haru di bandara, ada sekelompok orang yang ikut menatap ke langit, bukan untuk berdoa, tapi menghitung komisi. Baru-baru ini, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut ada potensi kebocoran 20–30 persen dari total dana haji Rp17 triliun. Artinya, sekitar Rp5 triliun bisa hilang di tengah jalan. Hilang bukan karena dicuri jin atau angin gurun, tapi karena bocor di antara “sekitar sepuluh proses bisnis” yang katanya menggerakkan ekosistem ekonomi haji, mulai dari kuota, transportasi, katering, sampai pengadaan jasa di Arab Saudi. Semuanya terdengar sah-sah saja, kecuali satu hal: yang dikorbankan adalah uang umat, bukan uang negara. Tapi yang lebih menarik bukan di mana uang itu bocor, melainkan siapa yang lebih dulu menyeka tangannya sebelum airnya menetes. Marwan Dasopang , Ketua Komisi VIII DPR, buru-buru berk...

Ketika Namaku Datang Lebih Dulu daripada Aku

Desember 2023. Jakarta sibuk dengan lampu, diskon, dan suara tahun yang mulai letih. Tapi saya punya urusan lain yang lebih personal: kembali ke gedung Trans TV, tempat yang dulu saya tinggalkan dengan reputasi yang, entah bagaimana, masih belum ikut pergi bersama saya. Saya datang bukan untuk reuni, apalagi melamar kerja. Hanya ada urusan kecil dengan salah satu tim di CNN Indonesia yang kini menempati sebagian lantai gedung itu. Di sana, saya bertemu lagi dengan beberapa kawan seangkatan saya, wajah-wajah yang dulu saya kenal sebagai rekan seperjuangan, kini sudah menjelma jadi para karyawan dengan jabatan lumayan tinggi. Kami duduk melingkar di meja salah satu dari mereka, bertukar cerita tentang masa lalu, tentang siaran yang kacau, proyek yang gagal, dan bos yang dulu kami kira abadi. Mereka menatap saya dengan senyum hangat, sebagian masih mengingat gaya saya yang dulu: blak-blakan, nyaris tanpa filter, dan selalu siap berdebat untuk hal-hal yang mungkin tidak penting bagi or...

Kecepatan yang Tak Terasa, dan Dunia yang Terlihat Salah Arah

  Lihatlah gambar itu. Sebuah tram membelah dua kenyataan: di luar, dunia melaju dalam kabur yang mendebarkan; di dalam, manusia duduk dengan tenang, seolah kecepatan hanyalah rumor yang tak perlu dipercaya. Ini bukan sekadar foto — ini cermin. Dan yang memantul bukan sekadar cahaya, tapi pemahaman tentang bagaimana kita hidup di tengah relativitas yang lebih sosial daripada fisikal. Einstein menulis bahwa tak ada yang benar-benar diam, dan tak ada yang benar-benar bergerak. Semua tergantung dari mana kau melihatnya. Arah bisa berubah hanya karena posisi berpindah. Waktu bisa melambat hanya karena kau melaju terlalu cepat. Dan yang paling lucu: persepsi bisa menipu semua itu, lalu disebut “kenyataan.” Tapi bukankah begitu pula hidup kita hari ini? Di luar tram kehidupan — di jalanan, di layar berita, di media sosial — segalanya tampak bergerak cepat, gaduh, bahkan gila. Namun di dalam “kerangka acuan” masing-masing, orang-orang duduk tenang di kursinya, yakin bahwa dunia di luar sa...

Tiga Lapisan dan Satu Skenario Bernama Negeri yang Rapi dalam Ketimpangan

  Di negeri ini, kelas sosial tidak sekadar realitas — ia adalah pertunjukan. Sebuah drama besar yang lakonnya sudah dibagi sejak lahir: kelas bawah jadi figuran, kelas menengah jadi pemain pengganti, dan kelas atas jadi sutradara yang juga memegang hak siar. Semua punya peran, tapi tidak semua punya suara. Di atas panggung, naskahnya sederhana: Kelas menengah dimatikan pemasukannya. Kelas atas dimuliakan posisinya. Kelas bawah dipelihara untuk mendulang suara. Dan seperti semua naskah propaganda yang baik, ia berjalan mulus — karena setiap lapisan percaya bahwa mereka sedang berjuang di pihak yang benar. 1. Kelas Bawah: Mereka yang Dihidupi oleh Ketidakberdayaan Kelas bawah adalah fondasi piramida sosial, tapi bukan yang menopang; mereka adalah bagian yang ditahan agar piramida tetap berdiri. Mereka dijaga agar cukup hidup, tapi tidak cukup sadar. Mereka diberi bantuan, bukan kebebasan. Dikasih janji, bukan akses. Setiap beberapa tahun sekali, mereka jadi rebutan. Disapa dengan...

Saat Kebenaran Menakuti Domba

  Ada ironi yang tak lekang oleh zaman: manusia mencintai pahlawan, tapi tidak pernah benar-benar siap hidup bersama mereka. Kita memuja keberanian, tapi gemetar ketika keberanian itu datang mengetuk pintu rumah kita dan menuntut ikut berjuang. Dalam setiap zaman, selalu ada orang-orang yang berjuang melawan ketidakadilan — dan selalu pula ada yang mengkhianati mereka, bukan karena benci, melainkan karena takut kehilangan kenyamanannya. Suatu hari, Che Guevara ditangkap setelah diserahkan oleh seorang gembala. Seorang prajurit yang heran bertanya, “Bagaimana bisa kau mengkhianati seorang pria yang seumur hidup membela hak-hakmu?” Dan gembala itu menjawab dengan tenang, “Perjuangannya melawan musuh membuat dombaku ketakutan.” Kalimat itu sederhana, tapi pahit. Di sanalah letak wajah sejati banyak dari kita. Kita ingin dunia lebih adil, tapi jangan terlalu ribut. Kita ingin perubahan, tapi jangan sampai domba-domba kita resah. Domba bisa berarti apa saja: pekerjaan tetap, bisnis ...

Ketika Negara Menganggap Rp20 Ribu Sehari Itu Sudah Cukup: Kisah Indah dari Statistik Kemiskinan

  Presiden Prabowo baru saja menyampaikan kabar gembira dalam sidang kabinet paripurna: angka kemiskinan Indonesia kini turun ke 8,47% , katanya, angka terendah sepanjang sejarah Republik . Tepuk tangan bergema di ruang sidang, para menteri tersenyum, dan grafik-grafik indah menanjak turun di layar LED. Tapi di luar gedung itu, masih banyak orang yang harus menunggu sisa nasi kotak acara agar bisa makan malam. Begitulah cara negara kita menulis sejarah, dengan angka, bukan dengan perut. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), garis kemiskinan per Maret 2025 berada di Rp609.160 per kapita per bulan , atau sekitar Rp20.305 per hari . Artinya, kalau pengeluaranmu sudah di atas itu, selamat: kamu bukan lagi “orang miskin”. Kamu sudah “naik kelas”, secara administratif. Tidak apa kalau gajimu habis untuk kontrakan, listrik, dan beras yang makin mahal, yang penting kamu tidak miskin menurut tabel Excel negara . Angka itu memang tampak kecil, tapi di situlah keindahannya: kemiskinan bis...

The Leap to Freedom: Melompat dari Tembok ke Cermin

  “The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting.” — Milan Kundera Pada 15 Agustus 1961, seorang pemuda bernama Konrad Schumann melompat. Bukan dari tebing, bukan dari pesawat, tapi dari satu sistem ideologi ke sistem ideologi lain, sehelai kawat berduri memisahkan hidupnya dari bab berikutnya dalam sejarah manusia: dari Timur ke Barat, dari “penjara” ke “kebebasan”. Dunia bersorak. Kamera mengabadikan. Barat menyambutnya seperti pahlawan, poster “The Leap to Freedom” dicetak berjuta kali, menjadi simbol kemenangan “dunia bebas” atas tirani komunis. Dan seperti itu pula, dalam sekejap, Schumann berhenti menjadi manusia dan berubah menjadi ikon. Masalahnya, ikon tidak bisa tidur. Tidak bisa merasa bersalah. Tidak bisa menangis karena keluarganya di Timur menyebutnya pengkhianat. Tidak bisa bertanya-tanya setiap malam apakah “bebas” berarti sendirian di kamar apartemen Bavaria dengan ketakutan bahwa Stasi masih mengintai. Ikon tidak punya hak a...

Peri Sampah dan Imajinasi Kolektif Kita

  Orang yang suka membuang sampah sembarangan, terutama di jalan, sebenarnya punya daya imajinasi yang luar biasa. Mereka percaya pada dunia yang tak kasatmata, dunia di mana ada makhluk mungil bersayap yang bertugas menghapus bekas keacuhan manusia. Dalam kepala mereka, setiap bungkus kopi, tisu bekas, atau puntung rokok yang tergeletak di trotoar akan diambil oleh peri sampah yang datang di malam hari. Lalu esok paginya, jalanan akan kembali bersih seolah tak pernah ada jejak dosa kecil yang mereka tinggalkan. Ironisnya, sebagian besar dari kita juga percaya hal yang sama. Kita tahu kita membuang, tapi kita yakin akan ada yang memungut. Kita tahu kita mengotori, tapi kita percaya akan ada yang membersihkan. Keyakinan ini begitu kuat, hingga menjadi bagian dari budaya: budaya menyerahkan tanggung jawab kepada pihak yang tak kita kenal, entah itu petugas kebersihan, pemerintah, atau “nanti juga ada yang ngurus.” Kita hidup di negeri yang religius, tapi anehnya, dosa yang paling...