Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2025

Dari Botol ke Mimbar: Ketika Dewan Pemuda Masjid Dunia Jadi Tempat Parkir Politik

Masjid, yang seharusnya jadi rumah sunyi bagi doa dan dzikir, tiba-tiba jadi panggung glamor untuk politikus dengan rekam jejak yang lebih cocok dipajang di papan meme ketimbang di kitab sirah. Bayangkan, Bahlil Lahadalia—sosok yang namanya kerap muncul di berita karena urusan gelar S2 yang kabur kabarnya, kebijakan investasi yang bikin rakyat kecil megap-megap, dan foto viral bersama botol minuman dewasa, sekarang diangkat jadi Ketua Dewan Pembina Pemuda Masjid Dunia. Pertanyaannya sederhana: apa yang dilihat oleh para formatur rapat di Singapura selain fatamorgana politik? Masjid sebagai Etalase Citra Keterangan resmi berbunyi manis: Bahlil dipilih karena “peduli organisasi pemuda masjid” dan “aktif membantu Palestina, Rohingya, hingga Thailand Selatan.” Klaim yang terdengar seperti brosur motivasi MLM: penuh jargon, minim verifikasi. Masjid, yang seharusnya jadi tempat pembinaan akhlak, dijadikan etalase citra. Cukup tunjuk satu nama pejabat, kasih embel-embel “peduli umat,” lal...

Kartu Kecil, Ego Besar

  Kisah ini dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana di bandara Halim. Seorang jurnalis bertanya kepada presiden—dan sang presiden bahkan menjawab. Tidak ada keributan, tidak ada drama. Namun, malam harinya, biro komunikasi presiden mencabut kartu peliputan istana si jurnalis. Seolah-olah pertanyaan itu terlalu liar untuk dibiarkan hidup, sehingga harus dibayar dengan pencabutan akses. Mari kita luruskan dulu: yang ditarik bukan kartu pers. Itu tetap utuh, tidak bisa disentuh oleh negara. Yang dicabut adalah kartu peliputan istana—selembar tanda pengenal yang memberi akses ke ruang paling simbolik dari kekuasaan: istana presiden. Jadi yang dipreteli bukan identitas jurnalis, melainkan aksesnya. Tapi justru di situlah letak simbol yang lebih tajam: ini bukan sekadar soal selembar plastik, melainkan pesan politik. Pesannya jelas: pertanyaan pun ada harganya. Kartu peliputan itu kecil, tapi maknanya besar. Dengan satu tarikan, negara ingin menunjukkan siapa yang berhak duduk di kurs...

Keracunan Makanan Bergizi

  Di negeri yang penuh dengan jargon “kesejahteraan”, tragedi bisa lahir dari piring makan. Ironisnya, bukan dari santapan liar di warung remang, bukan pula dari jajan sembarangan di pinggir jalan, melainkan dari sebuah program negara yang diberi label suci: Makan Bergizi Gratis . Entah siapa yang pertama kali menyusun istilah ini—mungkin tim humas dengan niat mulia atau sekadar kreator slogan yang keranjingan kata manis—tapi hari ini kita menyaksikan ironi yang begitu telanjang: ribuan murid sekolah, anak-anak yang seharusnya sedang belajar menulis masa depan, malah masuk rumah sakit dengan perut mual dan kepala pusing. Semua karena apa? Karena mereka taat makan bergizi, sesuai instruksi negara. Negara tampak lupa satu hal sederhana: gizi bukan sekadar soal label, tapi soal rantai panjang kualitas. Dari dapur ke panci, dari panci ke kotak makan, dari kotak makan ke perut anak. Dan dalam rantai itu, kerakusan, korupsi, dan ketergesaan bisa jadi racun yang jauh lebih cepat membunuh ...

Bayangkan Jika Raja Farouk I Mendukung “Two State Solution” di Indonesia

Tahun 1947. Bau mesiu masih melekat di udara Surabaya, tanah belum kering dari darah pemuda, dan republik muda yang baru berumur dua tahun itu masih dipertanyakan keberadaannya oleh dunia. Di tengah hiruk pikuk itu, sebuah kabar datang dari Kairo: Raja Farouk I dari Mesir mengakui kedaulatan Indonesia. Bagi republik yang masih ringkih, pengakuan itu adalah oksigen; ia meyakinkan dunia bahwa Indonesia bukan sekadar nama dalam proklamasi, melainkan kenyataan politik yang harus dihadapi. Namun, bayangkan jika pada tahun yang sama, Raja Farouk I berdiri di mimbar dan berkata, “Kami mendukung kemerdekaan Indonesia… tapi dengan solusi dua negara. Biarkan Indonesia tetap punya negara di Jawa, sementara Belanda mengurus sisanya. Dunia akan damai, karena kita bagi kue kolonialisme secara adil." Pernyataan absurd seperti itu mungkin akan membuat Sukarno mendelik, Agus Salim langsung mengisap rokoknya dalam-dalam, Hatta menghela napas lalu menulis nota protes dingin, dan Tan Mala...

Dari Peci ke Podium: Apa yang Benar-Benar Dibawa Indonesia ke PBB?

Ada tiga foto yang jika dipajang berurutan bisa jadi pameran kecil tentang sejarah diplomasi Indonesia di PBB. Yang pertama: wajah-wajah kaku, jas sederhana, peci hitam yang masih harum keringat perjuangan. Yang kedua: headphone penerjemah, dasi mengkilap, wajah Presiden SBY dengan ekspresi “tenang, terkendali, penuh kalkulasi.” Yang ketiga: masa kini, dengan Prabowo yang duduk gagah di Sidang Umum PBB September lalu, melempar pidato diplomatis dengan senyum kamera, meski publik di rumah ramai bertanya—“kok soal Palestina nadanya terdengar kurang tegas?” Dari tiga potret ini, terbaca garis waktu: diplomasi Indonesia di PBB bertransisi dari keringat → senyum → foto bareng. Keringat: Diplomasi Eksistensi Era awal kemerdekaan, para delegasi Indonesia datang ke PBB bukan untuk pidato gagah atau pencitraan, melainkan untuk menyodorkan eksistensi. Mereka membawa argumen tentang hak bangsa muda yang baru saja keluar dari mulut moncong senapan Belanda. Lambertus N. Palar dan kawan-...

Pertarungan Dua Semesta

  “Invasimu berhenti di sini.” Suara Superman terpantul di udara, berat dan tegas, seakan setiap kata adalah palu takdir. “Duniamu mungkin berantakan, tapi kegilaanmu tak akan kubiarkan mengotori dunia kami.” Dan sejak itu, dua semesta pun bertubrukan. Retakan Pertama Awalnya hanya retakan kecil di jagat raya. Justice League tengah menghadapi makhluk aneh, muncul begitu saja dari kehampaan. Superman, percaya pada kekuatan ototnya, melesat bagai meteor untuk menghantamnya. Namun justru ia yang terhempas, tubuhnya menciptakan gelombang kejut di udara. Batman, dengan dingin khasnya, segera mengambil kendali. “Aquaman dari kiri. Flash dari kanan. Plastic Man, lilit dia. Jangan biarkan ada celah.” Dan rencana itu berhasil. Monster roboh. Kemenangan yang hambar, sebab tak lama kemudian, Spectre turun dari langit. Suaranya bagai gema dari balik pusara. Ia memberi tahu: “Makhluk itu bukan milik semesta ini. Ada lebih banyak lagi… yang akan datang.” Di sisi lain multiverse, para Avenger...

hidup dalam dunia kapitalisme huruf kapital

  (atau: kenapa aku memilih mengetik dalam huruf kecil sambil meratapi harga mie instan) ada sesuatu yang sangat mengganggu dalam dunia modern ini. bukan, bukan polusi udara, bukan juga utang negara yang menumpuk seperti cucian lebaran. bukan juga kenyataan bahwa nasi padang sekarang sudah hampir setara harganya dengan sewa kos. yang benar-benar mengganggu adalah: huruf kapital . coba lihat. setiap merek dagang, setiap iklan, setiap janji palsu di baliho pinggir jalan — semua berteriak dalam huruf kapital. GRATIS ONGKIR! . CICILAN 0%! . DISKON GEDE-GEDEAN!!! . seolah-olah hidup ini hanya valid kalau dikapitalisasi, tidak hanya dalam arti ekonomi, tapi juga dalam arti tata bahasa. apa mereka pikir kalau kita dikasih kata gratis dalam huruf kecil, kita akan mengabaikannya? kalau baliho bilang diskon dengan huruf mungil, kita akan pura-pura buta? tidak, saudara-saudaraku. kita sudah terlalu lama terjebak dalam dunia di mana kapital (huruf maupun modal) jadi simbol kuasa. bayangk...

Dulu Gila, Sekarang Viral: Dunia yang Lupa Bahwa Standar Itu Sementara

Kita hidup di zaman yang aneh. Dulu orang bisa dicap gila hanya karena joget-joget di depan kamera. Hari ini, kalau kamu gak joget-joget, kamu dianggap gak seru, gak asik, atau malah dicap “anti-sosial.” Dulu dunia memberi label aib pada ekspresi diri. Sekarang, dunia yang sama memberi label “influencer.” Zaman berubah. Tapi perubahan itu tidak selalu berarti peradaban kita makin dewasa. Kadang, ia hanya berganti topeng, ganti bahasa, ganti algoritma. Marshanda hanyalah satu dari sekian banyak contoh. Ketika ia mengunggah video marah, tertawa, menyanyi, menari, dan meluapkan emosinya di tahun 2009, ia dicap gila. Lalu waktu berlalu, TikTok muncul, dan generasi baru justru berlomba-lomba membuat video serupa. Bedanya? Yang dulu dibenci, kini dirayakan. Kita tidak sedang menjadi masyarakat yang lebih menerima. Kita hanya sedang melupakan bahwa dulu kita pernah menghakimi. Kita hanya sedang menikmati keanehan yang kini dianggap estetis. Mari kita tarik lebih luas. Pernah dengar kisah...

Tiga Wajah Balasan: Sebuah Renungan Tentang Membantu dan Dihargai

Dalam hidup, kita pasti pernah menolong orang lain. Entah karena diminta, atau karena hati tergerak begitu saja. Kadang bantuannya besar, kadang sederhana. Bisa berupa uang, waktu, tenaga, bahkan hanya informasi. Tapi sesederhana apapun bentuknya, kita memberi karena kita peduli. Yang seringkali tak kita sadari adalah—respon dari orang yang kita bantu, itu punya dampak besar. Bukan hanya terhadap relasi, tapi terhadap semangat kita untuk terus membantu. Dan dari sekian banyak pengalaman dan cerita, ada satu pola yang berulang: manusia, dalam hal menerima bantuan, bisa terbagi ke dalam tiga jenis. Jenis pertama adalah mereka yang tahu cara bersyukur. Saat dibantu, mereka menunjukkan rasa terima kasih yang tulus. Bukan dibuat-buat. Kalau bantuan kita ternyata belum sesuai harapan, mereka tetap menghargai usaha kita. Bahkan tak jarang mereka membalas dengan senyum, doa, atau hanya sekadar berkata, "Terima kasih banyak ya, ini sangat berarti." Sederhana, tapi bermakna. Orang s...

Maneki Neko: Penjaga Nyawa di Gerbang Kuil

  Pada zaman ketika samurai masih menapaki jalan-jalan berbatu, dan suara lonceng kuil terdengar jauh menembus kabut pagi, hiduplah seorang kucing sederhana di pelataran sebuah kuil miskin. Kuil itu berdiri di pinggir hutan, sunyi, nyaris terlupakan, hanya dihuni oleh seorang pendeta tua yang sehari-hari hidup dari sedekah penduduk desa. Kucing itu bukan kucing yang istimewa di mata dunia—bulu putihnya sedikit kotor karena tanah, ekornya kadang menekuk ke samping karena luka lama yang tidak pernah sembuh, dan perutnya sering kosong. Namun bagi pendeta tua, kucing itu adalah sahabat. Mereka berbagi keheningan malam dan kehangatan sederhana dari api yang jarang menyala di musim dingin. Suatu sore, awan hitam berkumpul di atas bukit. Petir berkilat, guruh mengguncang udara, dan hujan turun tanpa ampun. Di jalan tanah tak jauh dari kuil itu, seorang daimyo kaya—seorang penguasa feodal yang tengah melakukan perjalanan resmi—terpaksa turun dari kudanya. Ia mencari tempat berteduh, dan me...

Kehidupan adalah Film, Tapi Kadang Kita Hanya Figuran Tanpa Dialog

  Hidup ini film. Begitu katanya. Tapi tak semua dari kita diberi naskah. Ada yang kebagian adegan lompat jurang, ada yang cuma lewat di latar, mengangkat dus, lalu menghilang. Tidak semua jadi leading role . Bahkan banyak dari kita mungkin cuma figuran, disuruh jongkok di belakang kamera sambil pura-pura makan mie yang sudah dingin. Tapi tetap saja... “I'm king of the world!” , teriak kita, meniru DiCaprio yang belum tahu kapal itu akan tenggelam. Kita terlalu cepat bahagia, seringkali pada momen-momen kecil yang ternyata hanya montage menuju kesedihan berikutnya. Dan ketika realita mencolek dari belakang, kita hanya bisa bilang ke diri sendiri: "Snap out of it!" Kadang hidup berjalan cepat. Kita merasa butuh kecepatan, bukan kebijaksanaan. "I feel the need—the need for speed!" Tapi kecepatan tanpa arah cuma bikin kita nyasar lebih cepat. Kita pikir kita Tom Cruise, padahal kita lebih mirip martabak telat balik: gosong di bawah, mentah di atas. Tentu, ada mom...

Bitter Sweet Symphony: Ketika Hidup Jadi Lagu, dan Lagu Jadi Hidup

  Ada satu lagu yang selalu berhasil menyentil jantung eksistensi manusia modern: Bitter Sweet Symphony dari The Verve. Lagu yang dibuka dengan gesekan string abadi itu terdengar seperti doa, tapi doa yang terlambat dikabulkan. Liriknya sederhana, repetitif, tapi justru karena kesederhanaannya ia menjadi mantra: “’Cause it’s a bitter sweet symphony, this life… Try to make ends meet, you’re a slave to money then you die.” Hidup ini pahit-manis, dan sering lebih pahit ketimbang manis. Kita kerja keras hanya untuk membayar cicilan, melunasi kartu kredit, menyambung hidup dari gaji ke gaji. Seperti hamster di roda besi: berlari kencang tapi tetap di tempat yang sama. Ironisnya, bagi Richard Ashcroft sendiri, pencipta lagu ini, lirik itu bukan sekadar metafora—melainkan nubuatan hidupnya sendiri. Hidup yang Jadi Lagu Kisah Bitter Sweet Symphony adalah tragedi yang terlalu pas dengan isi lagunya. The Verve mengambil sampel orkestrasi dari lagu Rolling Stones ( The Last Time ). Mer...

Waktu, Mata Uang yang Tidak Pernah Menampilkan Saldo

  Ada satu hal yang kita pakai setiap hari, tapi tidak pernah tahu sisa jumlahnya. Bukan pulsa. Bukan kuota. Bukan uang. Tapi waktu. Waktu adalah satu-satunya "mata uang" yang kita belanjakan tanpa pernah bisa mengecek saldo. Dan ironisnya, justru karena itu kita sering memperlakukannya seperti sesuatu yang murah. Dibuang ke drama yang tidak penting, ditukar dengan validasi murahan, atau dibarter dengan pekerjaan yang secara diam-diam mengikis makna hidup—asal gaji masuk tanggal 25. Banyak orang tumbuh dengan pemahaman bahwa kesuksesan identik dengan kesibukan. Jadwal padat dianggap lambang keberhasilan. Tapi semakin dewasa, banyak yang mulai menyadari bahwa tidak semua kesibukan berarti kemajuan. Ada yang sibuk lari, tapi sebenarnya sedang menjauh dari diri sendiri. Ada yang tampak produktif, tapi dalam hatinya terasa kosong. Kita semua sibuk membangun “karier”, merancang “masa depan”, mengejar “stabilitas finansial”—tapi jarang bertanya: waktu yang kita pakai untuk semua it...

Jakarta dan Dua Anak Solo: Kejujuran yang Ditertawakan, Kepalsuan yang Diangkat

Jakarta, September 1995. Kota itu sedang menelan orang-orang dengan lahapnya. Jalanan macet, udara dipenuhi asap knalpot, dan orang-orang berjalan cepat dengan pandangan yang jarang mau beradu tatap. Di tengah hiruk pikuk itu, seorang pemuda asal Solo berdiri di pinggir jalan raya Pasar Minggu. Usianya baru dua puluh tahun, tubuhnya kurus, matanya penuh keyakinan yang keras kepala. Di dadanya tergantung sebuah papan sederhana bertuliskan: “Saya mencari pekerjaan.” Tidak ada cara halus untuk mengatakannya: ia tidak punya akses, tidak punya kerabat yang bisa menaruh namanya di tumpukan rekomendasi HRD, tidak punya uang untuk membayar pelicin, apalagi posisi nyaman menunggu di kampung halaman. Yang ia punya hanya keberanian yang jarang dimiliki orang pada masa itu: keberanian untuk jujur, terbuka, dan rela sedikit dipandang aneh demi sebuah kesempatan. Di tangannya, ia membawa ijazah SMA. Ijazah asli — bukan selembar kertas yang dicetak di Pasar Pramuka, bukan hasil editan komputer. Ini...

Bukan Tentang Barangnya, Bung… Tapi Tentang Luka Batin yang Ingin Diobati

Coba kita jujur-jujuran sebentar. Orang beli Red Bull bukan karena rasanya enak. Jujur saja, rasanya mirip larutan air aki dicampur sirup anak kos. Tapi tetap laku. Kenapa? Karena setiap tegukan Red Bull mengandung ilusi bahwa kamu bisa ngebut di jalan hidup tanpa perlu tidur, tanpa perlu istirahat, seolah kamu adalah makhluk setengah dewa yang bisa menabrak deadline dengan satu sayap. Ya, kawan, ini bukan soal fungsi. Ini soal ilusi. Soal perasaan. Marketing modern bukan lagi soal menjual barang. Tapi menjual kompensasi emosional. Red Bull? Bukan soal energi. Tapi soal ego . Nike? Bukan soal sepatu. Tapi soal mimpi absurd bahwa kamu, pegawai kantoran yang ngos-ngosan naik tangga lantai dua, bisa “Just Do It” seperti Michael Jordan… padahal baru jogging 7 menit sudah buka GoFood. Rolex? Orang-orang waras tahu ada jam 25 ribuan yang bisa nunjuk waktu lebih akurat. Tapi Rolex bukan tentang waktu. Rolex adalah tentang perasaan dihormati, disegani, dan bisa menyikut yang antre di ban...

Satu Jeritan yang Membakar Sebuah Imperium

  (dan dunia Muslim yang kini justru sunyi dari gema seperti itu) Ada satu cerita yang sudah berabad-abad lamanya beredar di kalangan umat Islam. Ia dituturkan dari mimbar ke mimbar, dibisikkan dalam halaqah, dan diceritakan ulang di kamp-kamp dakwah, dengan mata berkaca dan suara bergetar. Bukan karena ceritanya panjang—tapi karena dampaknya panjang. Karena satu jeritan seorang wanita, mampu mengguncang peta dunia. Karena satu kalimat putus asa dari seorang Muslimah, menjelma menjadi bahan bakar penaklukan sebuah kota besar bernama Amuriyah. Di tahun 223 Hijriyah, Romawi Timur (Bizantium) sedang dalam fase overconfidence. Mereka menyerang kota-kota perbatasan Daulah Abbasiyah di Anatolia seperti anak kecil menendangi kaleng. Mereka membunuh, menjarah, memperkosa. Dan seperti kebiasaan para penakluk sebelum munculnya istilah "hak asasi manusia", mereka memperlakukan para tawanan Muslimah dengan cara yang lebih keji dari binatang lapar. Di antara yang ditawan, ada satu wanit...